Posted on Leave a comment

Kebun

Pertanian adalah sebuah seni yang khusus. Seperti dua seni lainnya : pengobatan dan pengajaran.

Demikian yang dinyatakan oleh penulis buku How to Read a Book, Mortimer J Adler & Charles Van Doren, 1972.

Petani, atau pekebun, bisa melakukan banyak hal. Memilih benih atau bibit terbaik. Memberi pupuk dan sistem pengairan terbaik. Tetapi pada akhirnya tanaman itu sendiri yang harus tumbuh. Menunjukan kualitas dan kuantitas panennya. Atau tepatnya, Tuhan-lah yang menumbuhkan dan membuatnya bisa dipanen. Baik secara kualitas maupun kuantitasnya.

Persis seperti pengobatan. Dokter, tabib, mungkin pasien sendiri, bisa melakukan banyak hal. Diagnosa menggunakan alat tercanggih. Menggunakan obat paten, terbaik – dan mahal biasanya-. Tapi Tuhan jugalah yang menyembuhkan.

Karena itu hendaknya kita hanya bersandar kepada Tuhan. Dalam hal apapun. Karena tanpa kehendak dan pertolongan Tuhan, tidak ada daya dan kekuatan.

Tidaklah kita boleh menyandarkan kepada kemampuan diri. Kita juga tidak boleh menyandarkan pada upaya kita. Yang mungkin kita nilai maksimal. Terbaik. Hanya kepada Tuhan lah kita bersandar dan berserah diri.

Tuhan mencontohkan, dan mengajarkan kepada kita. Melalui firman-Nya. Di salah satu kitab yang diturunkan-Nya. Yang kitab itu dijamin penjagaan-Nya. Tuhan berfirman ketika menceritakan salah satu dialog hamba-hamba-Nya : “Dan mengapa ketika engkau memasuki kebunmu tidak mengucapkan ‘Masya Allah, la quwwata illa billah’, (Sungguh, atas kehendak Allah, semua ini terwujud), tidak ada kekuatan kecuali dengan (pertolongan) Allah…. “. Silakan bukan kembali Quran surat ke-18, Al kahf ayat 39.

Hendaknya kita membaca “Masya Allah, la quwwata illa billah“, ketika memasuki kebun. Atau menyaksikan pertumbuhan tanaman yang bagus. Atau mungkin rumah yang bagus. Atau ketika kita merasakan nikmat-nikmat Tuhan yang lain, yang serupa dengan kandungan ayat di atas.

Untuk menghilangkan Kesombongan diri. Kebanggaan diri. Atas pencapaian-pencapaian yang diperoleh. Dan menyadarkan diri. Bahwa semuanya adalah atas kehendak dari Allah. Bukan semata-mata atas kehendak kita. Bukan semata-mata karena upaya kita. Tapi karena kehendak dan karunia Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Silakan membuka kembali surat Al Kahf ayat 32 – 44 untuk kisah pemilik dua kebun selengkapnya.

Pun kita harus merenung. Apakah nikmat dan karunia dari Allah yang kita terima itu sebagai rahmat dan kasih sayang Allah, ataukah sebagai istidraj?

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala, menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang bersyukur.

(Wiyanto Sudarsono)

Posted on 1 Comment

Pilar Peduli (3), Jangan Mengganggu Pelanggan

Seri Kelimabelas, Serial Jualan dengan Karakter

Kriiiiiiiiiing, dengan 10 “i”. Bisa jadi suaranya berbeda tergantung nada dering gawai kita. Saat dilihat (021) 123456, Great Jakarta. Atau 08wwxxyyzz46. Atau nomor tak dikenal lainnya. Dan bisa jadi nomor sudah kita simpan dengan nama kontak “kartu kredit”. Atau “sales berisik”. Atau nama dengan konotasi negatif lainnya.

Tidak kita angkat. Karena saat kita angkat, langsung banyak kalimat yang meluncur dari speaker gawai kita. Dengan alasan hanya ingin menjelaskan. Dua menit saja.

Bagaimana perasaan kita? Terbantu atau terganggu? Meski ada teman saya yang berusaha menghargai. Atau berempati dengan setia mendengarkan. Punya banyak waktu, mungkin. Meski pada akhirnya tetap menolak. Tapi sebagian besar mengeluhkan perilaku penjual melalui telepon tersebut.

Prinsip #15, Pastikan Upaya Penjualan Kita Tidak Mengganggu Pelanggan

Sebelum berkomunikasi dengan pelanggan, atau melakukan pendekatan dengan calon pelanggan, kita harus perhatikan 3M-nya. Momen, Media, dan Mood.

Pastikan waktunya tepat. Medianya pas. Pastikan kita perhatian dengan kondisi pelanggan dan kita siap untuk berempati.

Membuat janji, khususnya untuk pelanggan B2B adalah hal yang wajib. Agar kita tidak mengganggu mereka. Bisa janji bertemu atau janji menelepon. Janjiannya melalui SMS atau WA. Atau lewat sekretarisnya.

Saya senang dengan penjual sarana produksi pertanian. Yang mereka melakukan pendekatan atau presentasi kepada petani pada malam hari. Tepat, setelah salat Isya. Tidak pagi atau siang harinya. Saat petani – pelanggan-, sedang sibuk dengan tanamannya.

Atau mungkin, malah bertemu di sawah atau kebunnya. Saat petani mengamati tanamannya. Tergantung momen yang sesuai untuk pelanggan kita.

Termasuk ada pelanggan yang lebih senang dihubungi melalui pesan tertulis. SMS atau WA. Dari pada telepon atau bertemu langsung. Lebih memiliki fleksibilitas meresponnya.

Jangan sampai, kehadiran kita atau suara kita justru menjadi gangguan bagi pelanggan. Apa yang kita harapkan dari seorang penjual, itu yang harus kita penuhi saat kita menjadi Penjual.

Jika kita mengharapkan penjual itu harus mampu menjelaskan produk dengan baik, maka kita juga harus menguasai product knowledge yang kita jual. Agar tidak plegak pleguk saat menjelaskan ke pelanggan kita.

Poinnya, penjual, kita, harus berperilaku yang membuat pelanggan kita nyaman ketika berkomunikasi. Tidak berlebihan sebenarnya, jika kita bercita – cita menjadi penjual yang kehadirannya dinanti oleh pelanggan.

(Wiyanto Sudarsono)

Posted on 2 Comments

Pilar Peduli (2) – Memenangkan Hati Pelanggan

Seri Keempatbelas, Serial Jualan dengan Karakter

Pasal 1, pelanggan selalu benar. Pasal 2, jika pelanggan salah, lihat pasal 1.

Ah, pelanggan selalu benar? Tentu tidak. Pelanggan bisa “salah”. Secara teknis, pengalaman, keumuman, dalam industri tempat kita berada.

Namun yang pasti adalah, pelanggan adalah selalu pelanggan. Dan penjual, berperan memberikan solusi atas permasalahan mereka, meskipun pelanggan kita, berada pada posisi yang “salah.”

Kita, penjual, harus menjadi solusi bagi pelanggan kita. Terlebih setelah ada penetapan sebagai solusi agroindustri. Solusi dalam industri pertanian.

Prinsip #14,Fokus pada Kebutuhan Pelanggan, Menangkan Hati Mereka

Dalam pasar B2B, dan sebenarnya di semua pasar faktor produksi. Pertanian apalagi. Kalimat pertama yang harus muncul di benak kita sebagai penjual adalah “kapan uang pelanggan bisa kembali, kapan pelanggan kita bisa untung”. Ini yang kita pelajari dari para Business Consultant United Tractor -sebutan untuk Salesman atau penjualnya UT-.

Disisi lain, perusahaan, khususnya penjual, sering kali lebih peduli pada keuntungan. Atau komisi. Bonus dari transaksi. Kalau ada. Dan seberapa sering pelanggan beli produk kita.

Contoh kecil. Petani membeli produk kita (benih, pupuk, pestisida, Probiotik, dll) Bukankah harapannya panennya dapat meningkat? Peningkatan hasil yang diharapkan, adalah lebih besar dari biaya tambahan yang dikeluarkan untuk membeli produk? Atau soal biaya yang dikeluarkan, apakah menjadi lebih murah tanpa mengurangi hasil yang didapat?

Seberapa seringkah kita memikirkan kepentingan pelanggan yang demikian?

(Wiyanto Sudarsono)

Posted on

Pilar Kelima – Peduli

Seri Ketigabelas Bagian Kedua, Serial Jualan dengan Karakter

Prinsip #13, Bijaksana Selama Proses Penjualan, Bagian 2

Sesuai dengan yang telah saya sampaikan sebelumnya, ini adalah bagian kedua untuk seri ketigabelas.

Sebagian besar kita bisa mengendarai sepeda. Sepeda angin. Atau sepeda ontel. Gowes. Belajarnya waktu kecil.

Begitu gigih dan sabar kita belajar bersepeda. Gagal, coba lagi. Susah, coba lagi. Bahkan sampai terjatuh. Bangkit dan coba lagi.

Itu adalah nilai yang hendaknya kita tetap pegang bersama. Apa lagi kita sebagai orang penjualan.

Setiap penjual pasti pernah merasakan kegagalan. Ditolak calon pelanggan. Gagal bersepakat dengan calon Pelanggan. Atau gagal diujung proses penjualan. Atau ditikung, diserobot pesaing. Pesaing yang penjualnya kita kenal. Teman ngopi. Ambyaaaaar….. Pakai lima “a”.

Selalu ada yang dapat dipelajari dari kegagalan. Kegagalan, sayang untuk dilewatkan begitu saja. Terlalu mahal, terlalu berharga. Waktu, biaya, dan perasaan. Sikapi kegagalan dengan bijaksana. Jangan terus larut dalam suasana kegagalan.

Kegagalan harus segera dipulihkan. Dengan care, kepedulian. Pertama, peduli pada diri sendiri. Kedua, Peduli pada tim.

Sebagai seorang penjual, kita harus peduli dengan diri kita sendiri. Bagaimana kita bisa peduli dengan pelanggan, jika kita tidak peduli dengan diri kita sendiri?

Contoh peduli dengan diri kita sendiri adalah dengan meningkatkan dan menyegarkan kembali kompetensi. Misal, kompetensi selling skill atau ketrampilan penjualan yang kita miliki. Ini yang sedang kita lakukan bersama. Dengan membaca serial ini, semoga merupakan bagian dari upaya peduli dengan diri kita sendiri.

Mengetahui target penjualan kita. Termasuk mengevaluasi capaiannya. Tahunan, triwulanan, bulanan. Semua produk yang menjadi tanggung jawab kita. Ini juga termasuk kepedulian kita. Bagaimana mencapai target, jika kita tidak mengetahui targetnya?

Kedua, Peduli dengan tim penjualan kita. Ini khususnya bagi koordinator penjualan atau supervisor atau yang mengepalai penjualan.

Direktur TRAC (Astra Rent Car), Pak Jefri Sirait, memberikan tips. “Atmosfer harus dibangun. Setiap ada masalah, brainstorming, tukar pikiran, sangat dianjurkan. Tapi di forum tidak boleh ada blaming, saling menyalahkan. Bullying satu sama lain”.

Kita harus bijak dalam menghadapi kegagalan. Kegagalan diri. Atau tim. Kegagalan dalam penjualan adalah proses pembelajaran. Pembelajaran tujuannya mengajari. Bukan forum untuk marah atau jengkel, yang tidak ada solusi.

Semoga kita termasuk penjual yang berkarakter peduli. Peduli pada diri, keluarga, dan pelanggan kita.

( Wiyanto Sudarsono)

Maklumat :

Serial Jualan dengan Karakter diambil dari buku Selling with Character The Principles dan The Stories, terbitan PT GPU, 2012. Dengan penyesuaian.

Posted on

Jumat Berbagi Senyum

Serasa menjadi mahasiswa lagi. Hari ini. Meski tidak di kampus yang sama.

Berburu buku diskon. Dan ke masjid. Jumatan. Salat jumat. Bersama adik tercinta.

Masjid hari ini adalah Masjid Kampus UGM. Bukan di kampus saya. Belum. Saya alumni IPB. Orang menyebutnya Institut Pertanian Bogor, eh Pendidikan Bogor. Bukan, Perbankan Bogor. Bisa juga Pesantren Bogor. Pokoknya Institut Pleksibel Banget deh.

Jumat, memang berbeda dari hari yang lain. Istimewa. Terlebih lagi, bagi yang beragama Islam.

“Sebaik-baik hari dimana matahari terbit di saat itu adalah hari Jumat.”

Hari teristimewa. Sebagaimana potongan hadis Rasulullah sallallahu alaihi wasallam di atas. Diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Orang-orangpun, berbeda ketika hari Jumat. Mirip dengan bulan Ramadhan, bulan puasa, dibanding bulan lainnya.

Sebagian mereka pada hari jumat, menambah porsi ibadah. Ibadah individu maupun ibadah sosial.

Sebagaimana sebuah komunitas yang menamakan diri Komunitas Jumat Berbagi Senyum. Indahnya.

Salah satu aktivitas mereka adalah berbagi senyum, eh makanan. Makan siang. Yang membuat kita tersenyum. Karena bahagia. Semua jamaah yang berkenan menerima, mendapatkannya. Di Masjid Kampus UGM tadi.

Menu yang saya dapatkan, nasi, sayur, dan lauk kesukaan saya. Telur balado. Mengingatkan saya dengan masakan di rumah. Nikmat sekali.

Pembagiannya di tempat penitipan sepatu. Atau penitipan tas dan jaket. Yang membagikan penjaganya. Yang terdiri ibu-ibu. Yang tidak wajib shalat jumat. Ramah sekali. Sopan sekali.

Jogja memang istimewa. Istimewa orangnya. Istimewa negerinya. Dengan segala keruetan sebagian orang di dalamnya. Atau lalu-lintasnya.

Semoga kita bisa meneladani Komunitas Jumat Berbagi senyum. Menuju umat yang saleh secara individu dan saleh secara sosial. Menjadi umat yang rahmatal lil alaamiin di era youtube, FB, IG, WA dan lainnya.

(Wiyanto Sudarsono)

Posted on 3 Comments

Pilar Kelima – Peduli

Seri Ketigabelas, Serial Jualan dengan Karakter

Sekali lagi, penjualan adalah sebuah proses yang sepenuhnya bertemu orang. Tatap Muka. Atau lewat suara. Atau lewat kata. Karena itu, dalam prosesnya membutuhkan perasaan. Itu mengapa sebagian orang menyebut penjualan sebagai seni. The art of selling.

Prinsip #13, Bijaksana Selama Proses Penjualan

Proses penjualan membutuhkan waktu. Terkadang cukup panjang. Mulai dari prospecting, pendekatan, penjajagan, presentasi, menangani penolakan, hingga penutupan-closing. Setiap tahapan bertemu orang. Calon pelanggan.

Penjual juga harus bijak. Bijak saat bertemu pelanggan. Dalam berkomunikasi dengan pelanggan. Dalam menyikapi kegagalan. Bijak untuk senantiasa peduli dengan pelanggan.

Sebutlah namanya Kang Rat. Penjual untuk pasar B2B. Dari salah satu perusahaan pupuk. Ia mendapati ada calon pelanggan potensial. PT KG. Perkebunan. Kebunnya di Papua. PMA, penaman modal asing. Korea.

Cak Rat ini mengumpulkan semua informasi terkait KG. Dapat kontaknya.

Mulai dikontak. Bisa janjian. Bisa presentasi, tapi penawarannya ditolak. Rupanya DMU (Decision Making Unit) masih bertipe merah, percaya diri. Cenderung berlebihan. Kang Rat tidak memaksa. Percuma. Saat ini calon pelanggan belum butuh kita.

Setiap menjelang musim pemakaian pupuk. PT KG dikontak lagi. Buntu lagi. Saya lupa sampai 3 atau 4 musim berlalu. Selalu ditolak.

Ah, masa itu tiba. PT KG akhirnya setuju. Untuk datang ke pabrik Kang Rat. Kang Rat ini tipe penjual berkarakter bijak. Tahu DMU yang datang orang korea. Diajaklah tamunya ini makan mie. Di mal baru kota Kang Rat ini. Mie No. 1, demikian jargon restoran tersebut.

Setelah presentasi, negosiasi, kunjungan proses produksi, berhasil. 9.000 ton. Tepatnya saya lupa. Dua kali pengiriman.

Kang Rat ini memberi contoh ke kita. Ia tidak meninggalkan calon pelanggan yang menolaknya. Bahkan ia mencari informasi tambahan terkait calon pelanggan. Kondisi bisnisnya. Orang – orangnya. Informasi yang tidak terkait langsung dengan produk.

Penjualan dimulai ketika pelanggan mengatakan “tidak”.

– Jeffrey Gitomer

Semakin banyak informasi tentang pelanggan. Semakin baik. Seperti sahabat. Tahu banyak tentang sahabatnya. Sehingga bisa bijak dalam menyikapi setiap kondisi sahabatnya.

Pun sekarang. Meski Kang Rat tidak lagi menangani penjualan PT KG secara langsung. Kang Rat ini masih berkomunikasi baik dengan PT KG. Dan pelanggan lainnya.

Seri Ketigabelas ini akan ada side B-nya. Atau Part 2-nya.

(Wiyanto Sudarsono)

Posted on 2 Comments

Pilar Keadilan Penjual (3) – Setiap Calon Pelanggan Sama Berharganya

Seri keduabelas, Serial Jualan dengan Karakter

Jangan Kita menilai Pelanggan dari “Kulit Luar” Mereka

Era YouTube sekarang, mungkin kita banyak sekali mendapati tayangan eksperimen sosial. Oleh pe-youtube, youtuber. Atau oleh pesohor yang jadi youtuber.

Unik-unik cara mereka. Dan unik juga cara orang meresponnya. Terutama ketika youtuber tadi menyamar sebagai (maaf) gembel atau pemulung yang ingin membeli gawai atau bahkan mobil. Ada yang tak acuh. Ada yang begitu menghargai, atau sama menghargainya dengan calon pelanggan lain.

Bidang penjualan, punya cerita tentang Bob Golomb, dari Nissan Flemington, New Jersey. Ia memiliki aturan terhadap calon pelanggan. Aturan untuk dirinya sendiri. “Kita tidak boleh salah menilai orang dalam bisnis ini”. Kita tidak boleh menilai orang berdasarkan penampilan. Setiap calon pelanggan yang ditemui memiliki peluang yang sama untuk membeli.

Jika calon pelanggan membeli, Bob akan meneleponnya untuk memastikan pengiriman barang dan memastikan tidak ada yang kurang. Jika calon pelanggan tidak membeli, Bon juga akan menelepon untuk mengucapkan terima kasih telah berkunjung.

Buruk sangka, sama saja bunuh diri. Kita harus mengusahakan yang terbaik bagi semua orang“. Katanya dalam sebuah wawancara.

Penjual yang berkarakter tidak baik akan menilai, “orang ini tidak mungkin membeli produk kita”. Hanya dari Penampilannya. Atau dari usianya. Hanya dari cuplikan tipis dalam pikiran yang menjebak. Cerita Bob Golomb ini ada di buku “Blink” karya Malcolm Gladwel.

Calon pelanggan pertanian pun demikian. Misalkan, ada remaja muda (SMP) bertanya : “apakah tersedia Phonska Plus 1 ton!?”. Kita tidak boleh beranggapan, atau punya asumsi, wah tidak mungkin membeli ini anak. Bisa jadi ia atau dia, diminta ayahnya bertanya. Ayahnya seorang petani besar.

Pun dalam penjualan B2B, office boy, sopir, front office staff, dari perusahaan calon pelanggan adalah calon pelanggan juga. Yang berharga. Yang bisa jadi memberikan informasi berharga atau bahkan pengambil keputusan.

Di Lampung Tengah, ada rumah makan Pindang Sehat. Jika kita ingin memasok, mungkin ikan patin atau ikan baung atau daging sate tanpa lemak. Sebaiknya yang kita temui adalah tukang parkir rumah makan tersebut. Karena, (kata adik saya), tukang parkir itu adalah pemilik rumah makan.

Jadi, jangan membeli buku yang tidak ada cover-nya, eh jangan melihat buku hanya dari cover-nya. Sama dengan, jangan menilai calon pelanggan dari penampilan luar atau posisinya.

(Wiyanto Sudarsono)

Posted on Leave a comment

Pilar Keadilan Penjual (2) – Jangan Angin-Anginan

Seri Kesebelas, Serial Jualan dengan Karakter

Prinsip #11, Perlakukan pelanggan dengan baik di segala kondisi.

Banyak hal yang menyusun diri kita. Sehingga kita dapat disebut sebagai manusia. Seutuhnya. Fisik, pikiran, perasaan, emosi, dll. Penyusun itu juga memengaruhi sikap kita, terhadap orang lain. Dan sebaliknya. Orang lain kepada kita.

Sebagai penjualpun demikian. Perasaan juga memengaruhi sikap dan karakter kita.

Tentang perasaan misalnya. Jika kita termasuk pemilik perasaan yang angin – anginan, atau bahasa lainnya moody (dari kata dasar mood yang artinya suasana hati), kita harus hati-hati. Lebih hati-hati.

Jangan sampai, saat kita senang, kita bisa memberikan layanan yang WOW. Namun saat hati tidak enak, atau bad mood, pelanggan kita “paksa” ikut merasakannya.

Mungkin kita pernah mendapati. Saat belanja di minimarket, pramuniaganya cemberut. Menyambut dengan kata-kata saja. Sekadar kata-kata manis. Sesuai prosedur. Tanpa disertai muka yang manis. Mungkin kita hanya bisa membatin dalam hati, mungkin habis diputuskan pacarnya.

Kita seolah diajak merasakan suasana hati penjual. Yang sedang tidak enak.

Sebagai penjual yang baik dan berkarakter baik, perasaan atau sikap moody ini haruslah diubah. Berikan perlakuan yang baik kepada pelanggan disetiap situasi.

Perlakuan yang baik, meski untuk mencapai terbaik akan sulit sekali. Jangan sampai pelanggan merasakan sesuatu yang tidak mengenakkan dari kita. Baik ucapan, perbuatan, bahwa tubuh atau cara komunikasi kita.

Konsistenkan kebaikan kita dalam bersikap kepada pelanggan. Artinya selalu baik di segala situasi. Tidak hanya suasana hati, tapi baik disetiap tahapan penjualan.

Jangan sampai, kita baik dan rajin komunikasi saat pendekatan. Setelah berhasil bertransaksi jual beli, selesai sudah. Tak ada kabarnya lagi.

Sebenarnya sih, prinsip ini hanya memanusiakan pelanggan. Menganggap pelanggan sebagai orang. Makhluk sosial. Tidak sekadar transaksional. Lebih sebagai teman. Sehingga kita akan selalu baik dengan pelanggan.

Sudahkah hari ini kita mengontak pelanggan hari ini? Orang yang dulu pernah menjadi pelanggan kita? Sekadar kirim SMS atau WA. Saya sudah, setelah membaca materi ini. Pak Pauyan namanya. Pengecer dan Ketua Gabungan Kelompok Tani di Luwu Timur, Sulawesi Selatan.

(Wiyanto Sudarsono)

Posted on Leave a comment

Keramahan dan Kamuflase Harga

Saya masih terus terpesona dengan orang-orang yang terlibat di bisnis keramah-tamahan. Hospitality. Salah satu dari sekian bisnis bidang Jasa. Services.

Suatu pagi di bulan September, saya ke BNI, KCU Kediri. Satpamnya menyambut ramah, teller-nya pun begitu. Senyumnya seolah standar. Sepenuh hati. Paling tidak yang saya rasakan. Terlepas telah terjadi prahara apa mereka di pagi hari. Perang bratayudha sebelum anak berangkat sekolah, demikian biasanya seminar parenting menggambarkan, tidak terlihat dalam keramahan mereka, yang di tempat lain akan mudah kelihatan.

Keramahan ini harusnya ada di semua lini bisnis, yang berhadapan dengan dengan pelanggan. Internal maupun pelanggan eksternal.

Oh ya, diantara dari bisnis keramah tamahan yang saya ketahui diantaranya, hotel, pariwisata dan rumah sakit. Semua di sektor jasa. Sebagian ahli, menyatakan bahwa di sektor barang, juga tidak dapat dilepaskan dari jasa, pelayanan. Keduanya, barang dan jasa melekat. Karena itu, di dunia Pemasaran ada kompetensi Sales Operation, Brand Operation dan Service Operation.

Ada yang menarik di dalam materi LDP, Leadership Development Program. Bahwa service, pelayanan, itu dapat mengaburkan harga. Mengkamuflase harga. Demikian kata pemateri pertama kami.

Ia mencontohkan, pelayanan rumah sakit. Bagaimana kita diberikan pelayanan yang WOW, tapi semuanya dihitung. Meski kita menilai tidak membutuhkan.

Didorong di kursi roda, padahal segar bugar, seperti yang pernah saya terima sebelum operasi hemoroid. Prosedurnya memang begitu. Tapi itu di bebankan sebagai biaya, bagi pasien atau pelanggan. Sehingga pasien, atau pelanggan, akan berkata “pantas mahal, pelayanan benar-benar memuaskan”.

Dengan pelayanan, pelanggan akan memaklumi harga yang dikenakan. Demikian juga di penerbangan, tiket paling mahal selalu habis. Dengan pelayanan terbaik dikelasnya.

Berbeda dengan bisnis yang pelayanannya buruk, meski murah akan ditinggalkan. Kasus penerbangan mungkin bisa dikecualikan. Terpaksa, karena murahnya, dulu.

Karena itu, jika kita tidak bisa berbuat banyak di sisi harga, mari kita perbaiki pelayanan kita. Mudah mudahan pelanggan akan menerima produk kita dengan tambahan nilai yang kita berikan melalui pelayanan yang WOW.

WOW your Service lalu Grow Your Sales. Itu salah satu judul buku, yang ternyata belum selesai saya baca.

(Wiyanto Sudarsono)

Posted on Leave a comment

Ilalang Liar

“Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Kalimat di atas adalah bagian dari ayat ke-191 dari surat Ali Imran. Surat ketiga dari Alquran. Benarlah yang difirmankan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam kitab-Nya.

Sebagaimana Allah telah menciptakan ilalang. Sebuah tanaman yang hebat. Meski umumnya dianggap sebagai pengganggu dalam budidaya tanaman.

Ilalang atau alang-alang. Tanaman dengan nama ilmiah Imperata cylindrica. Demikian kata Wikipedia.

Tanaman yang menarik dan luar biasa.

Daya bertahan hidup tinggi. Tahan kondisi yang tanaman umumnya sulit tumbuh. Cuaca yang panas. Tetap bisa. Jika ekstrem dingin, saya belum melihatnya.

Dibakar tumbuh lagi. Bersemi lagi. Sangat liar. Dapat bertahan dikondisi yang sulit.

Ada hikmah yang kami ambil. Saat mengamati ilalang di bukit holywood, Gresik. Sambil jalan. Bersama kawan.

Ilalang di bukit holywood, Gresik

Bung Kosa (Nugroho Iman Prokosa) mengatakan, “jika liar harus tahan banting. tangguh. Kuat. Seperti Ilalang”. Saya sepakat dengannya. “tetap tumbuh. Bersemi lagi. Apapun kondisi yang menimpa.” Imbuhnya. Pada Ahad pagi itu.

Diskusi kami berlanjut sampai, bagaimana jika, manusia, orang, memiliki sifat seperti ilalang. Tangguh. Kuat. Kondisi apapun.

Liar, tapi dijalan yang benar. Karena orang. Bertahan tetap benar dalam kondisi apapun. Benar diposisi apapun. Setelah “dibakar” sekalipun. Seperti ilalang. Meski tidak perlu merasa paling benar.

(Wiyanto Sudarsono)