Batas Cakrawala

Inikah cakrawala? Sebuah bagian dunia yang tak terlihat batasnya? Ataukah kita yang tak dapat menjangkau batas itu?

Saya berpikiran bahwa apa yang ada di dunia ini terbatas. Setiap dimensi. Pajang, lebar, tinggi, waktu. Bahkan, pada sebuah gagasan tentang pikiran dan imajinasi kita dibatasi.

Kita mungkin lebih mudah bersepakat pada batasan terhadap dimensi jarak. Mudah sekali pengamatannya. Dimensi waktu, kita juga akan mudah sepakat. Tiap tiap kita dibatasi waktu bukan? Umur, masa pakai, sekian waktu lagi, sekian waktu tersisa. Makin kita tidak tahu persisnya umur kita, namun ada keyakinan dan kepastian bahwa ada batasnya.

Banyak hal juga memerlukan penanda waktu. Mulai maupun berakhirnya. Disitu, batasan tidak selalu berarti selesai waktu. Namun sebaliknya, bermulanya.

Kita, akan berdebat soal pikiran dan imajinasi. Saya pun bukan ahli dalam gagasan tentang imajinasi dan pemikiran. Terbatas atau tidaknya. Akan tetapi, gagasan bahwa imajinasi itu terbatas, mudah saya terima.

Saya berpikiran bahwa Imajinasi dibatasi oleh indra. Indralah yang membatasi imajinasi kita. Apa yang kita lihat (termasuk baca), maupun apa yang kita dengar. Imajinasi hanya berkisar soal itu. Atau gabungan dari itu. Bahkan, sampai mengimajinasikan apa yang seolah berbeda dari yang sudah ada.

Imajinasi akan berakhir dengan berakhirnya pemilik imajinasi. Semua itu sesuai dengan takdir Tuhan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Kemudian, hanya kepada Kami kamu dikembalikan.
(Al-‘Ankabūt [29]:57)

-WS-

Resolusi Harapan

Tiga hari selepas akhir tahun 2021. Kami sudah kembali pada rutinitas. Dan tugas tentu saja. Kami bukan termasuk yang merayakan tahun baru secara besar. Kami menilai, pergantian tahun seperti pergerakan waktu lainnya. Jam, hari, pekan, bulan. Juga berkurangnya usia.

Meski demikian, pergantian tahun juga merupakan pergantian periode. Tanggung jawab baru, tugas baru, periode baru.

Tidak lain, kecuali syukur kepada Allah, masih diberi kesempatan untuk memperbaiki apa yang kurang di tahun lalu. Memperbarui tekad yang tahun lalu terlewat. Berharap lebih baik.

Tidak ada masalah juga jika membuat pernyataan tertulis. Tentang tututan tentang suatu hal. Siapa yang dituntut? Tentu tidak lain adalah diri kita sendiri. Itulah Resolusi.

Dengan “tuntutan pada diri”, saya berharap ada komitmen diri. Tahun lalu banyak yang lepas. Mulai dari kecil sampai yang besar. Karya tulis berantakan. Target minimal satu buku pertahun meleset. Satu buku untuk diterbitkan.

Tentu menuliskannya akan memudahkan ingatan. Termasuk pengingat, nasihat, atau masukan orang terdekat. Saya ingin -baru tahun ini- menuliskan apa yang biasa disebut resolusi.

Saya akan mulai dari yang paling ringan. Semoga komitmen terhadap yang ringan adalah latihan untuk komitmennya yang lebih besar. Saya tidak memiliki pertimbangan khusus. Hanya karena saya ingin.

1. Jalan minimal 5 KM selama 6 dari 7 hari sepekan.
2. Membaca minimal 1 buku sebulan.
3. Menulis 1 artikel pendek setiap hari.
4. Membaca 1/2 Juz Alquran setiap hari.
6. Lebih fokus bekerja pada jam-jam kerja.
7. Lebih lama bercengkrama dengan istri dan anak-anak.
8. Menjalin hubungan lebih dekat dengan orang tua, saudara dan kolega.
9. Perbaikan kualitas ibadah mahdhah, dan menambah ibah ghairu mahdhah.

Bismillah. Canangkan resolusi, rencanakan kegiatan, besarkan harapan dengan doa.

(Wiyanto Sudarsono)

Diskon Kalender

Kalender

Aku dipanggil pimpinan, Pak Wi?”. Celetuk Kepala Perwakilan Kantor di Jakarta. Tiba-tiba, ditengah jadwal belanja perlengkapan Kantor dan makan siang.
          “Wes, bungkus. Kita langsung balik. Nanti Pak Sopir minta ambil makannya”. Saran saya. Panggilan pimpinan kudu diutamakan.
Nggak jadi Pak, Beliau cuma minta agenda dan kalender” Pungkasnya.

Kalender, daftar hari dan bulan dalam setahun. Dimulai dari 1 Januari diakhiri 31 Desember. Kalender Masehi. Atau dimulainya Muharram, diakhiri Zulhijah. Kalender Hijriah.

Kalender tidak bisa lepas dari kegiatannya perkantoran. Kegiatan Administrasi dan tentu saja ibadah. Tergantung jenis kalender yang digunakan.

Permintaan pimpinan soal agenda dan kalender itu tidak salah. Apalagi diakhir tahun begini.

Agenda dan kalender adalah buah tangan dengan manfaat setahun. Kalender juga merupakan pengeluaran konsumtif dengan manfaat yang cukup lama. Dua belas bulan, 365 hari.

Kalender — dan agenda–  juga merupakan media promosi yang akan selalu dilihat. Sepanjang tahun. Selama sasaran tepat, dan waktu tidak terlambat.

Sayangnya, beberapa pihak terkesan meremehkan hal ini. Kalender diorder terlambat, pembagian lebih telat. Diterima personel yang bertemu pelanggan sudah lewat.

Sampai-sampai malu hendak memberikannya. Sudah terlampau besar diskon kalendernya. Atau sedih mendengar jawaban pelanggan: “haiyaaa..kalender sudah banyak“.

Perusahaan pendiskon kalender, kalah dengan toko kelontong yang sudah sejak Oktober menjajakan kalender. Sampai kapan kalender itu akan didiskon? Kalender harusnya menjadi panduan memberikan diskon (baca: promosi ) kepada pelanggan: seasonal marketing. Bukan, diberikan pelanggan sudah terdiskon 2 atau 4 bulan.

Baca juga: Tahun Baru

(Wiyanto Sudarsono)

Cerita (Bukan) Jogja

Langit Kulonprogo Ketika Mendarat

Sekian kali kunjungan ke Jogja. Bukan berlibur. Kerja. Dan seperti biasa: tidak ke mana-mana.

Saya tidak terbiasa –atau belum– dengan kegiatan yang disebut orang workation. Kerja sambil liburan. Mungkin saya masih ndeso. Masih belum bisa kerja sambil liburan atau liburan sambil kerja.

Karena itu, jika undangan rapat di tempat wisata, saya berseloroh: nggak asik. Mau liburan, beban moral. Di biaya perusahaan. Mau kerja, kok di tempat wisata. Tidak konsentrasi. Akhirnya, tidak kemana-kemana. Ruang rapat, kamar hotel, tempat makan. Ke masjid sekali dua kali.

Kali ini saya punya cerita. Dua tiga cerita. Bukan tentang Jogja. Tentang hal lainnya.

Pesepeda Edan

Kawan lama. Senior. Kawan diskusi tulis menulis. Bahkan kami pernah berkolaborasi membuat kelas menulis dengan pembicara kawannya: Kris Budiman.

Saya pikir sudah pensiun. Usia: 56 kurang 4 bulan. Pekerjaan: Karyawan. Hobi: bersepeda, Touring Bike. Hobi dan pekerjaannya saat ini bisa ditukar.

Sebelumnya bersepeda Gresik ke Mataram kalau tidak salah. NTB yang jelas. Kali ini ke Jogja. Dari Gresik. Lewat Kediri dan Pacitan. Uedan! mbatin tok ae aku.

Bagi pesepeda, hal yang saya lakukan ini biasa saja“. Ungkapnya merendah. “Namun bagi kawan lain, capaian saya ini, tidak mereka bayangkan. Jadi saya bisa agak PeDe berswafoto saat bersepeda. Hehehehe“. Katanya berkelakar. Ia saat ini lebih aktif di FB saat bersepeda.

Kami bertemu di Jogja. Ditempat makan tentu saja. Saya rada menyesal, mengajak di tempat makan yang “biasa”. Tapi enak makanannya.

Kali ini, saya banyak mendengar. Kolega saya yang banyak bertukar cerita.

Ia sempat menanyakan tentang aktivitas menulis saya. Ah… Saya tidak bisa jawab. Tidak ada alasan yang bisa saya kemukakan.

Itu bedanya penulis “gaya wartawan” dengan “gaya sastrawan”. Sekira begitu tangkapan saya dari penjelasannya. Penulis puisi tidak bisa di target dengan tenggat waktu. Karena itu, penulis puisi, banyak yang menolak jika ditawari jadi wartawan.

Sebagai pesepeda yang menulis, banyak bahan yang ia bisa dapatkan. Tampak dari unggahan FB di akun “biasa”nya. Akun dengan kawan umum. Ada yang nggak umum. Kawan FBnya penulis, sastrawan, seniman, dan yang hebat lainnya. Saya harus nunggu buku bersepedanya.

Bersepeda, bisa mencapai derajat ekstase. Sama enaknya dengan seks“. Demikian petuah rasa yang ia ungkapkan. Ia tampak memaknai sepeda tidak hanya untuk sehat badan, namun juga pikiran.

Perempuan Kuat

Bukan yang terkuat. Atau yang terhebat, dari sekian yang saya tahu. Tapi cukup menarik.

Nama: tidak diketahui. Asal: Rantepao, Toraja Utara. Pekerjaan: Guru SMK. Usia: 55. Anak: 4, 2 perempuan, 2 laki.

          “Ada acara di Solo Bu, berarti diajak jalan-jalan di Jogja?
Anakku dilantik, TNI AU di Solo“. Jawabnyi. Itu terkonfirmasi dari salah satu tas yang dibawanya.

Kami bertemu di konter lapor di Bandara Internasional Yogyakarta. Dia agak bingung, karena anaknyi yang di Jogja tidak bisa mengantar sampai ruang lapor keberangkatan.

          “Masih ada yang sekolah Bu?“.
Sudah tidak ada, saya pensiun 5 tahun lagi“. Dia seolah merencanakan bahwa saat pensiun anak-anaknya sudah mentas. Kata ganti “saya”, dan dia perjalanan sendiri, saya duga ia tulang punggung sekaligus tulang rusuk keluarga.

Yang perempuan, nomor satu dan dua. Bidan dan Guru. Yang ketiga, kuliah di arsitektur UKDW.  Yang terakhir ini Polisi” (mungkin maksudnya TNI).

           “Dilantik Akmil?” Tanya saya yang tidak begitu paham ketentaraan.
Bukan, Bintara. Ia lulus SMK Penerbangan Makassar. Karena itu daftar TNI AU dan diterima di bagian mekanikal pesawat.”
Yang kuliah ini sudah tiga tahun. Belum apa-apa“.
           “Tidak mengapa Bu, yang penting selesai“.
Betul, rezeki orang beda-beda. Bisa jadi lulusnya lama, tapi mudah dapat kerja“. Pungkasnyi.

Buku Hamka

Duduk di bangku 25A. Pesawat JT 644. YIA-UPG. Jurusan Jogja Makassar.

Mata saya tertuju pada penumpang 24C. Senior, berkaus garis dan berjaket, berkopiah. Ditangannya ada Tafsir Al Azhar karya Prof. Hamka. Saya duga ia adalah Ustaz, atau minimal simpatisan Muhammadiyah.

Saya tersenyum sendiri, lantas mengeluarkan buku: Buya Hamka, Ulama Umat Teladan Rakyat. Karya Yusuf Maulana. Saya baca satu dua Bab. Sambil berharap bisa foto bersama dengan Bapak tadi sembari menunjukkan Buku tafsir dan Buku Biografi penulisnya.

Ah, tapi tidak kesampaian. Mungkin lain kali. Dengan cerita berbeda.

(Wiyanto Sudarsono)

Orang Musi

Kali ini Palembang. Agendanya mengantarkan Pak Iman (salah satu kolega senior kami yang berasal Palembang) pulang kampung. Pengantarnya, seluruh Direktur Perusahaan dan pejabat level 1 dan 2. Luar biasa.

Itu agenda tidak resminya. Agenda resminya adalah rapat kerja perusahaan beserta anak usahanya. Ramai. Banyak Direksi di satu pesawat: bahaya. Risiko. Tapi lupakan itu.

Sebelum mendarat di Bandara Syultan Mahmud Badaruddin II, terlihat kelokan sungai paling fenomenal: MUSI. Dengan delta (endapan) di badan sungai yang subur. Delta itu tampak ditanami padi.

Terlihat juga beberapa kapal. Ada juga sexy killer: tongkang batu bara. Meski saya sangsi muatannya apakah betul batubara.

Sungai dan pertanian seperti tak terpisahkan. Seperti ini juga Musi. Sawah di sisi sisinya. Dan di deltanya.

Meski airnya coklat, keruh. Saya yakin Musi adalah keberkahan dan karunia bagi Sumatera Selatan.

Seperti karunia lainnya, akan tetap menjadi keberkahan jika ada kesiapan manusia mengembannya. Akan tetap menjadi karunia jika manusia mengurusnya dengan baik.

Dan dapat menjadi bencana jika tidak siap. Dengan berbuat kerusakan terhadapnya atau dengannya.

Semoga MUSI Berkah. Manusia Urus Sungai (dengan baik) InsyaAllah berkah.

Selamat datang di Palembang.

(Wiyanto Sudarsono)

Maaf Jogja

Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna….. (Yogyakarta, Kla Project)

Mas Wi, makanan apa yang dirindukan di Jogja? Punya kenangan dimana?“. Pimpinan kami bertanya saat hendak mencari tempat nongkrong. Sebelum kami menuju Surabaya, meninggalkan Yogyakarta.

Tidak ada Pak. Saya tidak punya kenangan. Terkait tempat atau makanan di Jogja“. Timpal saya. Akhirnya kami berkunjung ke pelatih dan juri kontes burung. Dan ke Kafe Ling-Lung.

Kenangan di Jogja saya tidak punya. Kenangan untuk diulang. Atau kenangan untuk dinostalgiai. Tidak ada. Tapi tentu ada hal lain yang layak untuk diingat.

Kami, meski Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera), kakek kami dari Kulon Progo, YK. Tepatnya Kalipetir, Kec. Pengasih. Artinya ada keturunan YK. Karena itu suara kami halus (kalau sedang tidur tanpa mendengkur).

Yogyakarta, ingatan kami tertuju pembelajaran hidup. Tentang keluarga, tentang Saudara, tentang pendidikan. Tentang kepercayaan, tentang menjaga nama baik, tentang kesabaran, tentang godaan dunia. Tentang daya tahan jiwa.

Di YK pula, saya mendapat hadiah terbesar dalam genapnya usia 34. Lulusnya Saudara laki-laki saya: jadi Sarjana. Setelah segala ujian, kesabaran, perjuangan bersama. Emosi, air mata. Setelah 7 tahun 1 bulan lamanya. Semoga Allah mencurahkan rahmat-NYA.

Sedang denganmu sendiri Jogja. Mohon maaf tidak banyak yang bisa kami kenang, dan ingin kami ulang. Namun, itu tadi, Terima kasih atas pembelajarannya.

Jika Kla Project ingin selalu pulang ke YK, sekali lagi Maaf Jogja. Kami mencintai kota, desa, rumah, dimana keluarga kami tinggal bersama. Meski saat ini Jogja, kamu bukan termasuk di antaranya.

(Wiyanto Sudarsono)

UNDANG-UNDANG

Bukan sebuah produk hukum. Bukan sebuah peraturan yang harus ditaati segenap warga.

Itu, –saya pikir– merupakan sebuah produk budaya. Produk sosial kemasyarakatan, khususnya Jawa. Daerah transmigran Jawa di Lampung. Kampung halaman saya.

Undang-undang, mengambil makna dari kata undang, mengundang: meminta seseorang datang ke suatu acara yang akan diselenggarakan.

Di desa saya, dulu, ketrampilan undang-undang merupakan sebuah tanda. Tanda bagi seorang anak laki-laki menginjak remaja. Demikian yang ada dibenak saya.

Pak, ajari aku undang-undang Pak“. Pinta saya. Saya ingin menunjukkan bahwa saya bisa berbicara dengan orang lain. Orang yang lebih dewasa. Agar tidak dianggap “gedebok” /batang pisang. Ada tapi tidak bicara.

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Sugeng sonten Pak de. Angsal kulo mriki, sepindah silaturahim, kaping kalihipun, panjenengan diaturi Kunduren tenggene Bapak“. Kurang lebih begitu.
–tujuan saya kesini, pertama silaturahim, yang kedua mengungan Anda kenduri di rumah Bapak—.
Njeh insyaAllah“. Jawaban yang biasa terdengar.
Njeh mpun kulo pamit rumiyen. Assalamu’alaikum“. Setelah mendengar jawaban, sang remaja muda pamit.

Belajar Bicara

Sekali lagi diajari bicara. Setelah sebelumnya membunyikan kata. Saat balita. Hingga mampu memaknai: “kucing duduk di atas kursi”. Sebagai kucing di atas kursi bukan di bawahnya. Dalam kondisi duduk, bukan berdiri.

Kucing duduk di atas kursi (pxhere.com)

Menginjak remaja, diajari lagi bicara kepada orang lain. Untuk menyampaikan makna, dengan tujuan tertentu. Mengajak, memengaruhi, mengatakan maksud.

Sebuah pelajaran  berharga. Bahwa kita makhluk sosial. Berkomunikasi, berbicara. Yang menjadi pembuktian bahwa layak memasuki masa remaja dengan usia dan nalar jiwa.

Berikutnya akan banyak hal yang perlu kita untuk bicara. Menyampaikan hasil pembelajaran atau penelitian. Melamar anak gadis orang. Mengantar pengantin di acara akad nikah. Dan seterusnya… Berguna.

(Wiyanto Sudarsono)

Si Pengecer Tua

SPDP dan Pengecer Senior

Saya agak kurang nyaman sebenarnya dengan sebutan “Si” untuk orang yang lebih tua. Dan juga dengan kata “Tua”, yang mengisyaratkan sejumlah  angka yang besar dari hari kelahiran. Tapi tak apa, anggap saja sebagai penarik Anda melanjutkan bacaan ini.

Ini tentang orang yang masuk katagori lansia. Enam puluh tahun lebih. Dengan semangat belajar membara. Sangking terpesonanya, saya sampai lupa namanya.

Ia dari Semarang, mantan sopir taksi. Merantau ke ujung Bengkulu, tepatnya Kabupaten Mukomuko.

Saat ini, mereka, ia dan istrinya, berprofesi sebagai pengecer, retailer pupuk bersubsidi. Hebatnya, seluruh administrasi dikerjakan sendiri. Termasuk bermain-main dengan MS Excel untuk membuat rekap penyaluran. Tentu saja saat ini dengan aplikasi T-Pubers. Waktu itu ia tengah bersiap menyambut era T-Pubers.

Ia begitu lincah menceritakan pengalamannya bermain dengan angka dan nama petani di depan laptop. Kebijakan pribadinya dalam melayani petani, begitu mengesankan untuk pengecer pupuk bersubsidi di usianya.

Ada juga pengecer di desa sebelah. Tak kalah tuanya. Tapi ia mengelola lebih banyak bisnis. Kios, sawah, dan kebun sawit. Ia memiliki asisten untuk melaksanakan tatan administrasi pupuk bersubsidi.

Demikian pula ada seorang ibu yang tidak juga muda. Ia delegasikan segala hal terkait komputer dan aplikasi pupuk bersubsidi. Asistennya adalah seorang laki-laki yang merupakan anak sulungnya.

Fakta yang saya saksikan di atas, membuyarkan segala alasan pembangunan SDM pengecer pupuk bersubsidi. Pengecer tidak bisa baca tulis. Usianya sudah tua. Dan segala alasan yang menunjukkan keengganan berubah.

“Si Pengecer Tua” mengajarkan: “saya yang setua ini bisa lho. Masa, yang lebih mudah tidak bisa.”
Seolah mereka mencemooh kitanyang suka beralasan dalam keterbatasan pengecer. “Cari pengecer itu seperti saya, biar tua tapi bisa. Jika tua sudah tidak bisa, mungkin saatnya mencari yang muda”.

Mencari yang tidak gaptek. Cari pengecer Yang kompeten, yang mau jadi pengecer banyak. Meski yang berencana mundur juga ada.

( Wiyanto Sudarsono)

Joran Lebih PG

Tidak salah jika Markplus mengganjar penghargaan dalam Editor Choice Award dalam Marketeers I-Club Surabaya dengan tajuk “NEAR SALES: Revenue Accelaration Through Innovation” pada 27 Agustus 2021. PG Mampu “Catch The “Near Fish” dalam istilah Eddy Prasetyo dari Suara Surabaya.

PG mampu menangkap “Ikan” dengan lebih banyak joran dan kail. Itu dibuktikan dengan masih mampunya PG melahirkan produk baru untuk menangkap pasar di masa pandemi.

Bukan hanya ekspor, melaut lebih jauh. Namun menambah kail dan umpan untuk menangkap dan memberi pilihan lebih banyak bagi pasar (baca: petani).

SP-26, Petro Niphos, Phonska Alam, di pasar nonsubsidi dan Phonska OCA di pasar subsidi. Ini capaian yang luar biasa.

Ini juga menunjukkan semangat transformasi dan inovasi masih terus membara dalam “DNA” insan PG. PG mampu mengatasi tantangan-tantangan bisnis pupuk dalam Negeri dan memanfaatkan peluang di pasar nonsubsidi.

Dengan melahirkan produk baru, PG menempatkan joran-joran baru. Untuk menangkap ikan -pasar- lebih besar atau lebih banyak.

Selamat untuk PT Petrokimia Gresik dan seluruh insan di dalamnya.

(Wiyanto Sudarsono)

Kesepian Karya

Kesepian adalah ketika tidak ada keluarga untuk bercengkrama. Tidak ada rekan kerja untuk diajak diskusi dan bicara. Tidak ada bacaan untuk diselesaikan. Tidak ada karya yang dihasilkan.

Mungkin sebagian kita pernah, atau sedang dalam kondisi demikian. Kegiatan yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Karena perubahan kondisi baik di dalam maupun dari luar diri.

Hal yang bisa dilakukannya adalah mengambil langkah perubahan. Jika sedang belum ada keluarga atau jauh dari keluarga, saatnya kita ambil gawai. Panggilan video atau mencari tiket ke lokasi mereka. Perlu merancang startegi untuk bersama.

Atau saatnya menyusun mimpi berkeluarga. Menyusun prioritas dan cara untuk mencari jodoh yang sesuai.

Jika terkait dengan pekerjaan, mungkin bisa dengan membuka diri. Ngobrol dengan rekan kerja di luar bagian kita. Atau mengobrol dengan orang yang sekondisi. Siapa tahu ada inspirasi.

Malam ini saya mengambil langkah literasi. Membuka plastik yang membungkus buku di meja konsol di belakang. Memilih buku yang paling menarik. Membaca sekilas dan memutuskan untuk membaca lebih serius di akhir pekan.

Hasilnya… Kita tunggu saja. Yang jelas langkah awal telah diambil. Semoga semangat tetap stabil. Bismillah.

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah kepada Allahjangan engkau lemah,”

(HR. Muslim).

–Wiyanto Sudarsono–