Posted on Leave a comment

Korupsi?! Tak Tapok Sandal

Potongan Sampul Depan Buku

Buku baru telah tiba. Gembira rasanya, terlebih setelah menunggu agak lama, karena saya membeli dengan sistem prapesan di aplikasi lokapasar. Judulnya: KORUPSI DALAM SILANG SEJARAH INDONESIA: dari Daendels (1808-1811) Sampai Era Reformasi. Cetakan ketiga (Maret 2026). Cetakan pertamanya Desember 2016, cetakan kedua pada Oktober 2017. Terbitan Komunitas Bambu, Depok.

Apakah sudah saya baca semua? tentu saja, belum! Baru tiba kemarin, baru saya buka plastiknya. Saya membaca untuk mengawali pagi. Itupun baru blurb (teks promosi singkat di sampul belakang buku), tentang para penulisnya, dan halaman hak cipta. Ada yang mengusik saya di halaman hak cipta. Penjelasan tentang gambar halaman depan buku. Gambar Pengeran Diponegoro. Yang marah. Marah sekali. Apalagi untuk ukuran orang Jawa, apalagi golongan priyai. Seolah bukan sikap tenang dan kalem yang saya ketahui. (Belakangan saya baru tahu, bahwa pada dasarnya orang Jawa sama dengan orang Indonesia lainnya yang berpikiran terbuka, dan juga terbuka dalam kata. Kolonialisme yang mengubahnya. Demikian yang saya tangkap dari perkataan Peter Carey -yang juga penulis buku ini- dalam salah satu video daring yang saya tonton).

Sampul depan buku menggambarkan Pangeran Diponegoro yang sangat marah. Kepada Patih Yogya, Danurejo IV (1813 – 1847) yang munafik dan korup. Demikian penjelasan gambar sampul di halaman hak cipta. Uniknya, Sang Pangeran dijelaskan sedang marah dan menampar si Patih dengan Selop (alas kaki dengan bagian depan tertutup, sedangkan bagian tumit terbuka). Ini membuat saya terusik, apakah ini awal mula candaan (sesama kawan) atau ancaman (biasanya dari ibu-ibu di desa): sing bener, tak tapok sandal kowe nek ngapusi?! Atau sing temen koen, tak tapok sendal koen nek mbujuk? (Jw. Yang benar saja, saya tampar mulutmu pakai sandal jika kamu bohong?!).

Apa kiranya yang membuat yang membuat Sang Pangeran begitu marah? Penelusuran singkat saya menemukan bahwa, si Patih menyewakan tanah kerajaan di Rejowinangun. Sewa yang dilakukan oleh Si Patih kepada Penyewa (yang seorang Eropa, Belanda) disinyalir diwarnai skandal suap, alias korupsi untuk memperkaya diri sendiri. Dampaknya adalah kesengsaraan rakyat.

Apa yang dilakukan Pangeran Diponegoro adalah pernyataan sikap dan perang terhadap korupsi. Jika ada korupsi tak tapok sandal, dapat diperkirakan kondisinya jika yang menapok sandal adalah seluruh rakyat seluruh negeri. [ ]

Sandal di Salah Satu Masjid di Jakarta Pusat pada Waktu Salat Zuhur

Semoga Allah menjauhkan kita dan anak cucu kita dari praktik perilaku dan korban korupsi.

#SetiapHari,HariAnti-KorupsiSedunia