Tahun Baru

Saat ini masih pertengahan Oktober. Masih 2,5 bulan lagi, tahun baru. Tahun baru masehi. Ternyata sudah ada yang bersiap. Mempersiapkan pergantian tahun. Menyediakan apa yang akan berguna selama tahun depan. Jika umur memungkinkan.

Perusahaan menyiapkan rencana kerja dan anggaran perusahaan. Rencana biaya. Rencana pendapatan. Program kerja. Dan proyeksi laba. Mungkin sudah tahap finalisasi.

Pedagang juga tidak kalah heboh. Mulai menjajakan, menawarkan barang. Yang dibutuhkan di tahun depan. Selama setahun. Menjual investasi kecil. Yang jika terlambat akan mubazir. Kalender. Sebagian kita menyebutnya tanggalan.
Ya, mereka mulai menjual kalender untuk tahun depan.

Orang pemasaran –dan penjualan– pun harusnya demikian. Mulai mendistribusikan kalender tahun depan yang telah dicetak. Agar dapat dibagikan sebelum tahun ini berakhir. Karena seingat saya, tahun depan, awal tahun dimulai tanggal 1 Januari. Bukan 1 Februari. Bukan pula 1 Maret atau 1 April.

Kalender yang isinya kampanye perusahaan atau produk dan brand-nya. Dengan kalender yang dibagikan, dan dipasang di rumah atau toko pelanggan, ada harapan. Brand diingat, melekat di benak pelanggan. Dibeli dan digunakan.

Karena itu, pencetakan, pendistribusian, dan pembagian kalender tidak boleh terlambat. Hingga kehilangan momen. Diterima oleh pelanggan di bulan Maret atau April. Yang membuat kalender hanya berakhir sebagai bungkus paket saat pengiriman barang. Atau alas baju dilemari. Atau penutup tembok di dapur. Sayang.

(Wiyanto Sudarsono).

Leave a Reply

Your email address will not be published.