Layangan Manfaat

Terbang dengan menantang angin. Terbang tinggi namun tetap terikat di bumi. Itulah layangan. Atau layang-layang.

Apapun bentuknya. Sebesar apapun ukurannya. Seunik apapun kreasinya. Prinsipnya sama: terbang tinggi dengan terikat di bumi. Jika tidak tinggi, tidak akan bertahan bertahan lama. Atau sedang nyangkut di pohon. Jika tidak terikat: layangan putus.

Layangan seperti cita-cita. Harus tinggi. Dengan ketinggian semaksimal mungkin. Setinggi panjangnya benang. Benangnya adalah semangat, usaha, doa: harapan.

Cita-cita akan tegak atau berkibar dengan menantang keadaan. Tidak dengan rebahan. Bahkan yang kerjanya sambil rebahan tetap akan ada tantangan.

Semakin besar angin tantangan, semakin kuat benang harapan, semakin tinggi kemungkinan terbang. Tentu membutuhkan usaha lebih untuk bertahan. Tangan yang kuat untuk memegang. Tapi bisa lebih banyak kesenangan dihasilkan.

Setinggi apapun cita, posisi, kesuksesan, manfaat dan keceriaan tetap ada di bumi. Harusnya begitu. Jika tidak maka hanya di awang-awang. Tanpa manfaat sosial. Dan itu ada di bawah, bukan di atas.
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” (Hadits Riwayat ath-Thabrani)

(WS)

Ilham Menulis

Ilustrasi tidak menggambarkan apapun tentang isi tulisan. Hanya percobaan saja, kita tertarik pada gambar atau tulisan.


Entah apa yang hinggap di pikiran -dan perasaan- sahabat saya satu ini. Tiba tiba ia seperti mendapatkan ilham. “Tetiba Keinget  omongane Pak Wi kok aku merasa sangat kurang di penulisan dan menuangkan ide gagasan. Dan jebule bener. Pas kon nulis bingung mulainya darimana“. Pesan yang ia kirimkan via WA.

Sebuah permasalahan klasik penulisan. Bingung mulai dari mana. Seakan kita lupa bahwa kita sedang melakukan apa yg disebut menulis itu sendiri. Saat ber-WA-ria. Saat ber sosial media. Bahkan saat menyusun surat di aplikasi persuratan kantor. Kegiatan yang penuh dengan teks dan kata.

Ide gagasan kegelisahan, tulis, tidak ditulis tidak akan ada yang tersisa. Bahkan kitapun akan lupa“. Balas saya yang tiba tiba teringat. Lama juga saya tidak menulis di blog kesayangan.

Termasuk jika ide itu terhambat sesuatu. Tanpa ditulis, kita tidak akan bisa melaksanakan saat situasi memungkinkan. Tanpa hambatan. Hambatan hilang atau berganti.

Saya pernah mendapat nasihat dari Sahabat saya yang lain. “Nek duwe ide tulisen. Meski belum isa dijalankan. Suatu saat nek kondisi dan posisi memungkinkan, ide itu bisa dibuka lagi“. Dan benar.

Selain ide, kegelisahan juga patut dan sangat layak jadi bahan tulisan. Kegelisahan tentang apapun. Termasuk kritik dan kemarahan. Saya lebih menyukai gelisah daripada marah.

Dalam tulisan kita punya kontrol penuh terhadap pilihan kata dan gaya penyampaian. Optimisme, sudut pandang positif, dan upaya perbaikan adalah favorit saya. Meski saya tidak memungkiri pilihan kata yang keras dan lugas kadang diperlukan. Untuk menegaskan. Bahkan agak “mengumpat”. Sebenarnya pengen mengumpat tapi ada norma yang harus dijaga.

Buku Writing with out teacher, mengajarkan: tulislah. Apapun. Selama 10 menit. Atau lima menit. Bahkan tulislah apa yang membuat kita sulit menulis.

Tulislah, seringan apapun topiknya. Seremeh apapun -menurut kita- bahasannya. Bagian kedua buku saya SEPULUH GENAP banyak hal ringan yang saya angkat. Karena menulis adalah lebih baik daripada menyesal kemudian hari. Tidak perlu menunggu ilham untuk menulis. Tuliskan, ilham akan datang. InsyaAllah.

Semarang, 8/9 Arafah 1443 H / 8 Juli 2022.
(WS)

NB:
Teks ini saya tulis sambil stravaan. Dan bisa. Jika saya bisa lebih lebih lagi Anda.

Kebangkitan Penjual

Selalu ada yang dirayakan. Sifatnya tahunan. Istilahnya haul, atau ‘Ied. Ulang tahun, harlah, atau apapun itu istilahnya.

Tanggal 20 Mei diperingati hari Kebangkitan Nasional Indonesia. Meski ada sedikit perbedaan pandangan -dan diskusi/debat- apakah tanggal berdirinya Budi Oetomo atau kan Syarikat Dagang Islam yang “layak” menjadi tonggak kebangkitan Nasional.

Lepas dari itu, paling tidak bagi kita: manusia, selalu ada hari kebangkitan. Setiap hari. Bangkit setelah mati sementara: tidur. Sampai tidur terakhir. Dan berbangkit lagi.

Pun, kita terpaksa harus bangkit, setelah jatuh. Secara fisik, mental, ataupun finansial.

Ada juga momen bangkit yang sifatnya acak. Yakni ketika program atau sistem baru dijalankan. Atau setelah terjadinya sebuah krisis. Sekecil atau sebesar apapun skala krisinya. Setelahnya, adalah kesempatan bagi kita untuk bangkit dan memperbaiki. Ketika semua seolah dimulai dari awal lagi.

Kita, tentu sadar bahwa dunia pemasaran -dan penjualan tentu saja- adalah dinamis. Dan setiap titik perubahan, sebenarnya adalah kesempatan. Untuk bangkit. Menjadi lebih baik.  Yang sudah baik, bangkit untuk lebih baik.

Saat muncul produk baru misalnya. Berarti target baru. Cara baru. Prospek baru. Adalah kesempatan untuk bangkit dari keterpurukan kinerja dari produk yang sudah dewasa. Produk yang sudah tua dari sisi usia maupun laba. Sudah turun. Dengan produk baru, semuanya menjadi mungkin lagi.

Jadi, mari kita bangkit. Dan terus bangkit. Barakallahu fiikum. Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Ayo Bangkit Bersama!!!

-WS-

Rindu Pulang

Perjalanan lagi
Penerbangan yang lain lagi
Mengarungi langit Ilahi
Sekejap, rindu mulai bersemi

Pulau yang indah
Kota yang megah
Kuliner menggugah
Orang-orang yang ramah
Hambar terasa lidah
Tanpa mu

Pengalaman penyusuri jalanan kota
Bertemu sejumlah teman dan kolega
Lusinan Inspirasi karya tulis nan kaya
Tapi aku hanya ingin pulang, saat ini
Seperti yang Engkau tahu, bertemu denganmu….

Ada rindu yang perlu diobati.l
(WS)

Seks dan Penjual

Peringatan!
Tulisan kali ini adalah materi khusus Dewasa. Tidak ada kesengajaan untuk menyudutkan atau menyindir pihak tertentu. Juga tidak menunjukkan gambaran secara universal dunia penjualan. Ini hanya merupakan sedikit catatan pengamatan yang sulit untuk dibuktikan. Ini juga merupakan peringatan untuk pribadi, maupun pembaca yang berkenan mengambil manfaat. Kebijakan pembaca sangat disarankan.

Saya belum melihat ada hal yang dekat dan mirip dengan dunia penjualan -disebut juga bisnis- selain dunia politik. Baik dalam arti sempit maupun luas. Pernyataan ini sangat terbuka untuk didebat.

Hal pertama -penjualan -, yang diperjualbelikan: barang atau jasa. Sedangkan pada yang kedua adalah kebijakan, visi misi atau Janji: jika terpilih nanti. Organisasi penjualan dan partai politik juga mirip. Ada juga persaingan di antara penjual, atau kandidat. Atau persaingan antarpartai dan antarperusahaan, atau brand. Juga ada pelanggan dan pemilih yang harus dimenangkan. Omzet dan suara yang didulang sebanyaknya. Juga ada pemasarannya.

Tersebutlah tiga buah novel biografi politik. Trilogi Cicero (Imperium, Conspirata, Dictator) Karya Robert Harris. Menceritakan kehidupan Markus Tulius Cicero, seorang orator, pengacara, dan politikus Romawi kuno. Sangat menarik diikuti. Novel fiksi histori yang menggambarkan perilaku politik dan politikus. Zaman dulu. Saat ini, bisa jadi masih ada yang sama.

Dari novel-novel itu, dan sebagai orang di dunia penjualan saya tergelitik, tertarik, dan jadinya menyelisik lingkungan. Itu karena satu hal dalam politik di novel itu -dan mungkin di dunia nyata-. Yang juga lekat dengan dunia penjualan: seks.

Seks: Seperti Gajah di Ruangan

Menulis dan membahas ini seperti ungkapan: Elephant in the room. Ada. Disadari, gamblang tapi enggan dibahas. Tabu, mungkin. Malu. Kontroversi, membuat orang tidak nyaman. Atau mungkin ternyata dimaklumi: TST, tahu sama tahu.

Dunia penjualan, bahasan seks berkelindan. Obrolan ringan, hingga janjian. Dibalut hiburan, dan layanan kepada pelanggan. Seks menyelinap masuk di dalam dunia penjualan. Beriringan dengan jamuan. Adat kita, biasanya dengan agak malu-malu.

Yang dilayani, adalah pelanggan. Orang yang biasanya akan membeli produk. Atau merupakan pemimpin DMU (Decision Making Unit). Atau pengambil keputusan lain. Terkait orang yang memberikan fasilitas layanan.

Sebatas itu, seks di dunia penjualan  sebenarnya adalah bumbu dalam proses bisnis. Mirip seperti adegan seks dalam novel kategori 17+ (dewasa). Kategori ini yang tersemat di sampul belakang novel terbitan GPU, seperti Trilogi Cicero dan Nagabumi. Adegan ini, sebenarnya dihilangkan pun tidak mengubah alur cerita.

Seks dan Para Penjual

Penjual dan pelanggan (atau wakil organisasi pelanggan) adalah pria. Umumnya begitu. Dan objek seksnya ada wanita. Itu yang saya amati. Tidak ada maksud menyudutkan gender tertentu. Saya belum memperhatikan yang sebaliknya.

Wanita, pekerja seks komersil akan terlibat disini. Dengan berbagai kemasan. Dan perbedaan sejauh apa aktivitas seksual dilakukan. Tergantung selera dan keberanian. Atau bayaran.

Apakah hanya sebatas pelanggan (dari penjual) yang menjadi penikmat? Tidak, saya memperhatikan penjualnya pun akhirnya ikutan. Penjual menjadi penikmat. Meski dalam kondisi, waktu, tempat yang berbeda. Yang bisa jadi sebenarnya masuk dalam tataran pribadinya. Tidak terkait dengan pekerjaannya.

Saya menyadari sepenuhnya, bahwa seks adalah tataran pribadi. Namun, tidak sedikit hal ini masuk ke ranah profesional. Masuk ke organisasi penjualan. Cukup menganggu, dan jadi kasak kusuk. Yang seharusnya bisa diabaikan.

Saya pernah berseloroh kepada beberapa tim saya: “Bapak-Bapak, saya berbicara sebagai pimpinan tim, sebagai kawan, sebagai sesama pria: ‘jika Istri Bapak tidak mau diajak bertempat tinggal di lokasi bertugas, silakan menikah lagi. Saya siap jadi saksinya. Dari pada Bapak ‘jajan’ sembarangan. Risiko. Jika tidak mau, jangan sampai istri Bapak menangis dihadapan saya, atau datang ke kantor’.”. Alhamdulillah, sampai detik ini belum ada yang meminta saya jadi saksi pernikahan dengan istri kedua, ketiga atau keempat.

Mungkin, kita bisa apatis: itu urusan pribadi masing-masing. Mengapa mengurus rumah tangga orang?! Meski itu anggota tim kita sendiri. Biarkan saja. Selama kinerja penjualan baik-baik saja.

Bagi saya, permasalahan itu masuk ranah konseling. Sekadar mengingatkan tentu tidak masalah. Baik kinerja terganggu atau tidak. Karena berpotensi penurunan kinerja, atau fraud. Berisiko merusak kinerja (jika jadi obsesi) dan citra perusahaan (jika sampai viral). Karena itu saya mengungkapkan peringatan dan candaan di atas.

Kami, saya dan beberapa orang di tim, telah beberapa kali menerima tangisan, curhatan, dari pasangan (istri) penjual. Apalagi yang sudah diperingatkan jauh-jauh hari.

Ada yang menikah lagi. Jika istri tidak ikut, kami akan berargumen. Meski jika menikah lagi, bagi saya masalahnya lebih ringan.

Jika kemudian datang, mengadu, menangis, karena suami selingkuh. Cukup repot menyikapinya.

Misalkan, si suami yang tidak lain adalah personel penjualan kita, ada main dengan pelanggan: Distributor, staf Distributor, atau modus ‘jajan’ lainnya. Apalagi mencatut nama atasan. Dengan judul “Menemani” atasan. Ini sangat tidak elok.

Ada pula yang istrinya memergoki si penjual memesan PSK lewat aplikasi online. Karena memang ruang digital telah mendisrupsi bisnis prostitusi secara besar-besaran. Kini tidak ada lagi wisma yang dimiliki para mami. Sebagai gantinya, menyeruak dalam jagat maya yang justru akan sampai ke ruang privat melalui gawai dalam genggaman (Dian Widhiandono. Prostitusi dalam Genggaman, Disway, 1 Okt 2021).

Dan benar, seks di kalangan penjual ini tidak mengenal usia. Tua, Muda, senior, junior, tampaknya ada yang terkena.

Bagi saya, karena ini ranah pribadi, saya menasihati dan memperingatkan diri sendiri dan pembaca. Jadilah penjual yang amanah. Dapat dipercaya oleh konsumen. Dan keluarga kita adalah konsumen terdekat kita bukan?

Dan saya menilai, terlepas benar atau tidaknya aduan, Penjual yang istrinya mengadu sampai ke Pimpinan atau mengadu di media sosial terkait perilaku seks Si Suami/Penjual adalah penjual yang gagal. Paling tidak, gagal secara moral. Gagal mengelola organisasi kecilnya. Apalagi yang bermainnya dengan pelanggan penjualan produknya. Terlalu!

-WS-

Target

Target: Kemana Arah Harus Memanah

Sasaran yang telah ditetapkan untuk dicapai. Serupa tujuan. Setiap kegiatan hendaknya punya tujuan. Punya target. Agar terarah. Agar jelas apa yang harus dilakukan. Sudah sampai mana pencapaiannya. Apa yang perlu dilakukan, jika belum sesuai arah yang hendak dicapai.

Penjualan adalah target. Meski saya kira, kita dapat bersepakat bahwa penjualan tidak melulu soal target. Bukan melulu soal angka. Tapi penjualan lekat dengan itu. Tak terpisahkan.

Saya beberapa lalu membaca sebuah kutipan. Kira-kira begini: “jika hasil tidak sesuai dengan target, jangan turunkan targetnya. Tapi perbaiki cara mencapainya“.

Sebagai penjual, saya setuju dengan ungkapan di atas. Penjual harus berjuang, kreatif, harus “die hard” –angel matine-, gigih dan pantang menyerah. Selain juga penjual juga harus yakin dan percaya kepada team leader atau pemimpinnya: target telah disusun sedemikian rupa sehingga bisa dicapai. Realistis untuk dicapai.

Sebagai manajemen yang mengelola Tim Penjualan, saya tidak sepenuhnya sepakat dengan kutipan di atas. Ada kalanya target itu meleset. Tidak realistis. Terlalu mudah, atau terlalu susah.

Di sini ada seni mengatur target. Konsepnya bisa sama. Rumusnya persis sama. Orang-orangnya sama berkompetennya, ketersediaan stoknya sama, namun hasil capaiannya bisa berbeda. Kompensasinya, sama menariknya. Atau sama tidak menariknya. Itu seni. Perilaku sama, hasil bisa beda.

Mentor penjualan kami waktu itu mengatakan: “target tidak akan pernah turun. Baik dari target sebelumnya atau dari realisasi sebelumnya”. Perusahaan butuh tumbuh. Tumbuhnya dari profit. Profit dari penjualan.

Pengalaman saya menunjukkan, bahwa, jika target tiga kali berturut-turut di bawah 90%, Atau terlampaui lebih dari 110%. Maka ada yang salah dengan target.

Salah pasang target. Terlalu mudah. Atau terlalu susah. Terlalu! Keduanya keliru. Target harus agresif (memotivasi) dan harus realistis. Plus minusnya 10%. Itu prinsip saya ketika merencanakan. Jika sedang sadar.

Semoga kita bisa mendiskusikan terkait target ini di beberapa seri berikutnya.

Edisi kali ini edisi Jumat. Pun, hidup kita di dunia. Ada target ada tujuannya. Tidak hanya lahir, tumbuh, kerja, hidup, lalu mati. Tanpa tujuan yang mulia. Tanpa tujuan hidup, samalah derajat setiap makhluk. Yang membedakan adalah kemuliaan tujuannya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pencipta telah membocorkam tujuan penciptaan. Yang harusnya jadi tujuan hidup kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman yang artinya:

Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.
(Aż-Żāriyāt [51]:56)

Semoga bermanfaat.
-WS-

Sulit Admin

Dalam setiap aktivitas pekerjaan hendaknya dilakukan pencatatan. Bahasa keren kami: pengadministrasian.

Terutama untuk kegiatan yang harus dipertanggungjawabkan penyelenggaraannya. Biasanya berkaitan dengan biaya. Meski tidak terbatas pada itu.

Administrasi harus tertib. Tercatat setiap waktu pelaksanaan dan mudah dalam melakukan penelusuran. Dan harus sedekat mungkin dengan pelaksanaan. Kalau bisa seketika: real time. Kalau ada jeda atau berjarak lama akan lupa. Menumpuk, malas, dan rawan kesalahan.

Tujuan administrasi adalah kegiatan terlaksana dan dapat dipertanggungjawabkan. Juga terdapat rekaman terkait suatu kegiatan.

Administrasi harus dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Jangan sampai administrasi menghambat. Ataupun sebaliknya, administrasi tidak dilakukan dengan baik.

Dalam rangka memudahkan pengadministrasian saat ini, banyak dilakukan digitalisasi. Perubahan sistem dari manual kertas, ke digital menggunakan teknologi informasi.

Apakah ketertiban dan digitalisasi ini menarik? Bagi pemeriksa (baca: Auditor) akan disambut gembira. Mudah memeriksa, mudak di lakukan cek silang, dan terstandar.

Bagi pelaksana ada tantangan untuk adopsi teknologinya. Tapi bagaimanapun kita sebagai pelaksana kegiatan dan administrasinya harus menyesuaikan, kalau tidak akan ketinggalan. Atau ditinggalkan.

Jikapun terpaksa masih manual, jangan dipersulit. Prinsipnya adalah kecukupan. Tidak kurang tapi tidak pula berlebihan, sehingga menyulitkan.

-WS-

Evaluasi

Jangan alergi dengan evaluasi. Jangan takut dievaluasi. Jangan pula sewot jika manajemen menerapkan atau memperbaiki program evaluasi.

Jangan pula merasa tak dipercaya. Kalau bisa dipercaya tidak masalah programnya apa saja.

Sejak “coer” bayi merah, kita senantiasa dievaluasi. Berat badan, panjang badan, suhu, keaktivan. Bahkan jerit tangisan. Nanti pun, setalah kematian kita bersiap mengahadapi evaluasi: hisab.

Evaluasi Penjualan


Penjualan adalah yang paling dievaluasi dari sebuah bisnis. Karena itu sumber energi perusahaan. Pasti ditanyakan. Mengapa begini mengapa begitu. Angka yang bicara. Tidak perlu banyak cerita.

Saya sering berkelakar, apapun yang penjual lakukan, mau jumpalitan, kalau penjualan tidak tercapai, omong kosong. Sebaliknya, jika tidak ngapa-ngapain, penjualan berhasil, maka evaluasinya akan baik. Meski keberadaan dan kontribusi kita patut dipertanyakan. Mungkin karena kita pernah berjuang. Dulu.

Tenaga Penjual dievaluasi oleh manajemen. Distributor di evaluasi oleh penjual. Pengecer dievaluasi oleh Distributor.

Tidak lama akan diterapkan program evaluasi kinerja Distributor. Tidak mudah menentukan parameternya. Agar keberadilan. Menurut kami.

Juga program pengelolaan tenaga penjual. Agar penjual lebih optimal dan lebih maksimal. Lebih efektif dalam melaksanakan fungsinya. Dan alasan lainnya yang sudah umum dalam dunia salesman.

Bagi penjual, tidak sepatutnya curiga. Atau jangan sampai kecewa, merasa tak dipercaya.
Tapi, saya lebih senang kita bersama  berharap. Siapa tahu ada sesuatu yang tidak disangka-sangka. Semacam hadiah atau apapun namanya. Jika hasilnya baik.
-WS-

Kata

“… banyak orang yg merendahkan bahkan menyepelekan orang yg memiliki kemampuan dalam berkata-kata…… Jangan lupa bahwa “KITAB SUCI” pun adalah berisi kata-kata….. Karena itu jangan sepelekan kata-kata”.
Itu potongan kedua tanggapan seorang pembaca di grup WA.

Namanya Agus Nugroho. Sarjana Agama yang menjadi penjual. Bukan menjual agama. Menjual produk pertanian. Potongan pertama tidak perlu saya kutip. Bisa bikin saya terbang ke udara.

Kata memang luar biasa. Dalam konotasi yang bisa ditarik ekstrem kanan, positif, maupun ekstrem kiri, negatif. Baik dalam ragam lisan maupun tulisan. Begitu bermakna kata. Bahkan ada pabriknya, di Bali.

Kita, tanpa kehadiran fisik adalah kata dan angka. Nama, NIK, nomor pegawai, dan identitas. Kita dikenali sebagai kata dan angka. Bahkan angkapun dibunyikan sebagai kata.

Perundungan –bully-, motivasi, refleksi diri juga dalam bentuk kata. Sejarah juga direkam sebagian besar dengan kata. Kemerdekaan NKRI ini diproklamirkan dengan kata-kata oleh Sang Penyambung Lidah Rakyat.

Karena pentingnya kata dan kemampuan berkata-kata, banyak sekali pelajaran dan buku tentang hal ini. Meski saya sering heran sedikitnya peningkatan ketrampilan dan buku tentang “Mendengarkan”. Meski ada, tidak sebanyak ketrampilan berkata-kata.

Sebagai penjual, kata adalah alat utama. Termasuk alat untuk memotivasi jiwa yang sedang gundah gulana.

Ada sebuah kata-kata bagus: “Mari kita kerjakan yang kita bisa, dan serahkan sisanya kepada Tuhan. Keberuntungan tidak meninggalkan mereka yang bekerja keras”. Ini adalah nasihat Letnan Kolonel Anup Kumar Saxena kepada putrinya, Letnan Penerbangan Gunjan Saxena, dari Angkatan Bersenjata Indian.

Kata-kata ayahnyi itu mampu mengubah pandangannyi. Kata itu membangunkan jiwanyi yang putus asa. Saya rekomendasikan para penjual melihat filnya: Gunjan Saxena, The Kargil Girl. Untuk belajar agar tidak menyerah dan putus asa.

Selamat berkata-kata. Yang baik. Yang positif.
-WS-

Maaf

Satu Kata: maaf. Satu dari tiga Kata ajaib yang di ajarkan di Taman Kanak Kanak: Tolong, Terima kasih, Maaf. Kata – kata yang tidak semua orang  terbiasa mengucapkannya.

Tolong dan terima kasih, berkaitan dengan kebaikan yang telah diberikan. Atau karena hajat yang hendak dilakukan. Keduanya, bagi saya lebih mudah dilakukan. Berkaitan dengan hal positif atau kenikmatan.

Tolong karena kebutuhan dan kesopanan. Kita akan rela mengucapkannya karena adanya bantuan yang diharapkan. Sedangkan terima kasih karena adanya hal positif yang kita terima.

Beda dengan yang ketiga: “Maaf”. Kata maaf yang dimaksud disini bukan yang maknanya menggantikan kata “permisi”. Tapi, maaf karena telah berbuat kesalahan. Mudahkah kita mengatakannya? Mohon maaf atau minta maaf setelah kita berbuat salah.

Kata ini terkadang diperlukan bahkan ketika kita tidak melakukan kesalahan. Yakni ketika kita tidak yakin bahwa kita telah berlaku benar ataukah tidak.

Maaf saat bersalah adalah bukti keinsyafan dan kebijaksanaan. Dan bagi lawannya, memaafkan adalah bukti kemuliaan.

Keberanian, kemauan, kesadaran dan ketulusan meminta maaf adalah bentuk kerendahan hati (ketawadukan). Memaafkan dengan segala nilai dan maknanya adalah kemuliaan.

Jadilah pemaaf. Janganlah malu memohon maaf kepada orang lain. Kedua kalimat ini adalah perintah bagi diri saya sendiri, dan ajakan kepada pembaca.

Mohon maaf jika materi, diksi, maupun pembahasan yang kurang berkenan di pembaca semua.
-WS-