Segmen Momen

Dua tahun ini, tentu Pandemi adalah yang paling mengejutkan. Mungkin terbesar setelah Perang Dunia II.

Mengubah banyak hal. Pola konsumsi, cara konsumsi, transportasi, bahkan sampai tingkat kehidupan individu.

Sektor yang tidak seberapa besar perubahannya, dibanding yang lain, mungkin adalah pertanian. Pertanian budidaya lebih tepatnya. Terdampak, tapi tidak sebesar sektor lain. Alhamdulillah.

Beberapa waktu lalu, diskusi tentang segmentasi di salah satu WA Grup cukup ramai. (Baca: Momentum Mengeluh). Ternyata sampai juga kita di persinggungan dengannya.

Segmentasi pasar produk sarana produk pertanian, mungkin tidak jauh berbeda antara sebelum pandemi dan saat ini (masih pandemi).

Segmentasi statis dengan membagi pasar berdasarkan kawasan pertanian, dataran rendah, tinggi, irigasi teknis dan tadah hujan, provinsi/Kabupaten masih relevan. Luas areal pertanaman, komoditas atau subsektor yang ditanam, atau usia kebun, juga masih menjadi segmentasi yang bisa digunakan.

Sesitivitas pelanggan tehadap harga, cara menggunakan produk, perilaku budidaya, keberanian mengambil risiko, bisa menambah kaya segmentasi yang dimiliki. Lebih banyak segmen apakah lebih baik? Tidak juga. Belum tentu.

Yang jelas, memiliki segmentasi lebih baik dari pada tidak ada. Agar strategi tidak gebyah uyah, sembarang boleh. Kita tidak harus menjual semua produk kita di seluruh pasar. Cukup sediakan dan jual di pasar sasaran saja. Sehingga stok tidak perlu berulang tahun.

Sebagai penjual, jangan juga suka meminta produk, atau ukuran produk yang belum tentu sesuai dengan strategi. Biasanya hanya sebagai alasan tidak tercapainya target. Ups. Pelanggan maunya kemasan 5kg. Misal demikian. Setelah disediakan juga tidak bergerak.

Setiap produk ada segmennya. Setiap segmen ada produk dan brandnya. Termasuk gambar pada kemasan. Termasuk cara komunikasinya.

Tentukan segmen kita, pastikan produk, brand, kemasan yang sesuai. Dan mari jualan!!

(Wiyanto Sudarsono)

Momentum Internal

Pada akhirnya semua kembali ke kita. Kita yang harus bersikap, beradaptasi, merancang dan melaksanakan strategi. Kita yang dimaksud adalah organisasi atau perusahaan, bisa juga pribadi.

Seperti apapun perubahan lingkungan bisnis dan hidup. Sekompleks atau sesederhana apapun kemauan pelanggan. Seagresif atau se-woles apapun pesaing (menurut kita). Akhirnya kita yang harus adaptasi. Untuk tetap produksi, memasarkan, dan membuat profit.

Kita yang harus bertahan. Kita yang harus tumbuh berjuang. Kita yang harus terus berkembang.

Untuk dapat melakukannya, kita harus meramu strategi. Strategi adalah semacam memilih dari serangkaian pilihan yang ada, untuk situasi, kondisi dan momentum yang tepat. Cepat dan tepat. Tidak terlambat.

Misalkan, saat petani membutuhkan pupuk dasar P. Pupuk bersubsidi SP-36 sudah tidak bisa diharapkan.

Sebagai penjual yang katanya jualan solusi, kita punya pilihan. Menyediakan pupuk P kualitas terbaik, TSP (P: 46%). Tentu dengan harga yang sesuai. Atau pupuk dengan kandungan maksimal 20%? Dengan harga yang bersaing. Atau mau menyediakan pupuk Fosfat alam kualitas bagus. Tentu dengan harga yang semoga bisa bagus. Itu pilihan. Kita yang memilih.

Atau ketika pelanggan kita menginginkan NPK formula tertentu. Kita punya formula lain. Kita pun punya pilihan. Berkata mohon maaf belum bisa produksi karena a, b, c, d. Atau menawarkan: kami sementara punya ini. Untuk dapat formula itu kita bisa tambahkan Urea sekian, KCL sekian, Kieserit sekian. Semua kami yang sediakan Pak. Misal demikian. Ada pilihan yang bisa kita ambil.

Bila kita bisa menyesuaikan startegi dengan momentum yang pas, klik, bukan tidak mungkin kita memiliki kesempatan. Kesempatan untuk bertahan dan berkembang.

Ada masa dimana anak tumbuh cepat. Demikian dengan usaha. Selama punya startegi yang sesuai lingkungan dan kondisi. Strategi apa yang kita gunakan di setiap momentum yang ada?

(Wiyanto Sudarsono)

Bacaan:
Momentum, 18 Kunci Utama Penggerak Bisnis. Hermawan Kartajaya. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: 2019.

Momentum Mengeluh

Sebenarnya, tidak salah pelanggan mengeluh. Misal mengeluh soal pengiriman atau penyediaan barang yang lambat. Padahal pelanggan sudah bayar. Terpaksa mereka menunggu sebulan. Pelanggan memaki, meski tak terdengar oleh telinga kanan dan kiri.

Misla juga pelanggan menelepon soal kualitas tampilan dan kemasan.Membuat kita –penjual– enggan mengangkat telepon genggam. Bahkan pelanggan tertentu dicap sebagai pelanggan “vokal”, “bawel”, atau “cerewet”.

Sikap terhadap keluhan sebenarnya ada tiga. Pertama, abaikan, anggap sebagai angin lalu. Jawab sekadarnya “baik akan kami koordinasikan”. Kedua, tanggapi dengan lebih baik. Tindak lanjuti sesuai SOP, yang kita sudah tahu “tidak akan banyak perubahan”. Ketiga, jadikan momentum untuk memperbaiki diri dan organisasi agar semakin relevan dengan pelanggan. Butuh perjuangan.

Keluhan pelanggan, atau pelanggan yang sedang tidak senang, adalah sumber pembelajaran untuk perbaikan dan pengembangan. Paling tidak itu yang diajarkan oleh pemasaran —service operation–. Dan kita tahu itu.

Kita hendaknya bersyukur jika pelanggan mengeluh dan telepon kita. Terlebih jika kita adalah seorang penjual. Atau orang yang melayani pelanggan langsung. Akan sangat sayang jika pelanggan tiba-tiba beralih ke brand lain. Atau yang agak mending adalah menelepon atasan kita.

Pun, jika pelanggan telepon atasan, manajer, GM atau Direksi kita soal layanan kita? Apa sikap kita? Jengkel, memprotes, memaki? Atau kita instrospeksi diri, kemudian memperbaiki kekurangan kita?! Jawaban kita menentukan level layanan kita.

Jangan sampai kita salah memahami pelanggan. Awal kemunduran dan hilangnya perusahaan-perusahaan besar masa lalu, salah satunya gagal paham terhadap pelanggan. Dan gagal memanfaatkan momentum bersama pelanggan. Termasuk memanfaatkan momentum keluhan dari pelanggan.

Memang tidak mungkin memuaskan semua pelanggan dan semua keinginan pelanggan. Tapi ada momentum penting yang akan memberi dampak besar. Salah satunya, jika pelanggan mengeluh, tapi masih mau bercakap dengan kita.

(Wiyanto Sudarsono)

Bacaan:
Momentum, 18 Kunci Utama Penggerak Bisnis. Hermawan Kartajaya. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: 2019.

Momentum Terpaksa: Pesaing

Pilih teh atau kopi?

Jika Anda ditinggalkan pasangan Anda, karena memilih tresno liyane, apa yang anda lakukan? Menangis sejadinya, atau memperbaiki diri? Penampilan, sikap, dan keuangan.

Persaingan memang seolah akan memunculkan siapa yang unggul dan siapa yang gugur. Meski ada sisi dimana persaingan mendorong orang atau organisasi menunjukkan yang terbaik.

Situasi

Tingkat persaingan dipengaruhi oleh, kondisi umum lingkungan bisnis atau industri. Jumlah pesaing, kemudahan masuk industri, termasuk keberadaan dan jumlah produk pengganti.

Tingkat persaingan di pasar UREA dalam industri pupuk, lebih rendah dibandingkan NPK. Teknologi yang sulit, bahan baku yang terbatas menjadi penghalang masuknya pesaing di pasar Urea.

Beda dengan NPK dan organik. Persaingannya begitu banyaknya. Berbagai formula NPK yang dapat saling menggantikan. Baik yang lokal maupun impor. Termasuk produk alternatif (baca: abal-abal).

Agresif

Agresivitas pesaing  juga bisa membuat keder. Komunikasi pemasarannya begitu jor-joran. Insentif penjualan yang menggiurkan.

Meski tidak hanya itu, kreativitas dan efektivitas strategi yang digunakan sangat diperlukan. Mengantisipasi dan memantau gerak kompetitor sangat perlu. Namun, harus membuahkan hasil berupa rekomendasi untuk antisipasi perkembangan berikutnya.

Kemampuan

Kemampuan kompetitor berkisar soal keuangan, SDM, Teknologi dan aset lainnya. Meskipun memiliki semuanya bukan jaminan.

Antisipasi terhadap tantangan sangat perlu. Untuk mengukur sejauh mana kemampuan kita, dan sampai kapan bisa bertahan pada tingkat persaingan.

Hampir semua pemasar dan penjual yang tahu ini. Banyak yang belum paham, sehingga melewatkan momentum (persaingan) yang memaksa berubah untuk memperbaiki diri dan Organisasi. Pesaing sebagai pelecut perbaikan dan strategi.

Jangan sampai, di tengah persaingan yang begitu keras, namun masih PeDe untuk anteng wae, berlindung dibalik nama besar dan kesuksesan masa lalu. Tertipu. Atau, berlindung di bisnis dengan Pemerintah berselimut baju subsidi. Semoga kita tidak begitu.

(Wiyanto Sudarsono)

Bacaan:
Momentum, 18 Kunci Utama Penggerak Bisnis. Hermawan Kartajaya. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: 2019.

Momentum Berubah

Power Rangers. //id.pinterest.com

Saat ini, sebagaimana kita ketahui dan rasakan, banyak sekali terjadi perubahan dalam proses dan operasional bisnis. Terencana maupun terpaksa. Dengan tingkat kedalaman yang biasa –hanya melakukan apa yang seharusnya– ataupun yang radikal.

Pemicunya macam-macam. Dari sisi ekonomi: keterpurukan ekonomi karena pandemi. Politik dan hukum: larangan pertemuan tatap muka. Larangan acara yang bersifat mengumpulkan massa. Bagi yang biasa berceloteh di depan khalayak ini menjadi masalah.

Dari aspek pasar, penurunan daya beli konsumen. Karena pendapatan turun. Karena harga hasil panen turun. Karena (misal) produknya di ekspor. Pasar ekspor lesu (lagi-lagi) karena pandemi.

Silakan diingat perubahan teknologi, sosial budaya, di industri kita. Nggak usah jauh-jauh, selama 2020-2021 ini saja.

Dalam hal yang bersifat operasional: pertemuan. Dengan tim atau dengan pelanggan. Lebih banyak daring daripada tatap muka langsung. Rasanya tentu beda.

Pun dengan proses bisnis. Yang biasa disebut transformasi. Baik yang sifat inisiasi atau mandatori.

Perubahan yang radikal, seperti merger perusahaan. Atau sentralisasi fungsi ke induk usaha. Atau menyapih bahkan menutup bisnis yang tidak menguntungkan.

Perubahan mengubah objek perubahan. Yang sadar akan menyiapkan dan rela segera berubah. Yang tidak atau kurang sadar, akan terpaksa diubah.

Kesempatan Berbuat

Kondisi ini sebenarnya merupakan momentum. Untuk menstandardisasi apa yang sebelumnya jauh panggang dari api. Mengusulkan sesuatu yang lebih ideal.

Dalam kondisi krisis seperti ini, usulan apapun akan dipertimbangkan. Karena bisa jadi banyak orang tampaknya juga terkaget-kaget.

Nyaris tidak tahu apa yang harus dilakukan. Seperti orang tenggelam. Apapun yang muncul di permukaan akan disambar. Tapi usulah yang baik-baik. Baik secara tujuan dan isi.

Beda jika nanti kondisi menjadi lebih “stabil” lagi. Kita akan ditantang dengan banyak pertanyaan. Karena mengubah yang stabil.

Contoh! Menambah tenaga penjual saat kondisi stabil, ampun-ampun. Mungkin saat ini bisa lebih mudah, sing penting tujuannya meningkatkan penjualan.

Ngusul insentif bagi tenaga penjual setengah mati. Dulu. Mungkin saat ini lebih bisa. Atau lebih sulit. Ini perubahan, tidak ada yang tahu pasti.

Iklan di TV. Dulu, belum pernah. Saya belum pernah lihat iklan pupuk, pestisida, atau pertanian di TV swasta Nasional. Saat ini, mungkin bisa. anggaran promosi tatap muka banyak yang diparkirkan.

Ayo siapa yang punya usul. Silakan tinggalkan komentar di bawah.

(Wiyanto Sudarsono)

Bacaan:
Momentum, 18 Kunci Utama Penggerak Bisnis. Hermawan Kartajaya. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: 2019.

Momentum Pemasaran Musiman

Saya memiliki keyakinan, setiap orang, usaha, ataupun organisasi akan memiliki saat untuk berkembang. Tumbuh meroket, melejit, yakni saat bertemu momentum yang pas. Waktu yang tepat. Tempat yang tepat. Situasi yang tepat. Tipping point-nya lah.

Istikamah, fokus adalah salah satu hal yang membuka peluang untuk dapat momentum itu. Fokus mengamati, fokus mengembangkan diri dan organisasi, serta fokus dalam ibadah dan berdoa.

Momentum juga perlu diupayakan bahkan diciptakan. Terutama dalam pemasaran. Lebih lagi dalam pertanian. Karena momentum berkelebat di depan mata kita. Sangat sayang jika dibiarkan begitu saja.

Membaca Momentum

Momentum di pertanian sangat terkait dengan musim. Musim tanam, musim panen, musim hujan, musim kemarau, atau musim buah tertentu.

Selain musim, ada momentum yang ada di masyakarat umum, juga berdampak di pertanian. Sebut saja misalnya ramadan dan lebaran, idul kurban, libur atau hari pertama sekolah, musim pernikahan (bulan haji), hari tembakau, hari bumi dll.

Kegiatannya pemasaran dan penjualan, tentunya akan sangat dipengaruhi oleh musim ini. Juga, kita harusnya mampu memanfaatkan musim-musim ini dalam merencanakan dan melaksanakan program pemasaran.

Selain waktunya, tentu yang perlu dilihat adalah luasnya momentum. Karena sifatnya musiman, bisa jadi sangat lokal momentum itu. Satu desa, kecamatan, atau provinsi. Atau bisa juga cukup luas, menasional, seperti lebaran atau idul kurban.

Bahkan, momentum juga bisa diciptakan. Misal mementum saat peluncuran produk baru. Saat ulang tahun perusahaan, ulang tahun perusahaan pelanggan.

Memanfaatkan Momentum

Momentum akan sia-sia jika disikapi dengan biasa. Berlalu begitu saja.

Tiap-tiap momentum perlu direncanakan dan dilakukan sebuah program dan kegiatan. Untuk meningkatkan brand awareness, atau mendorong penjualan. Untuk mengakuisisi pelanggan atau meningkatkan loyalitasnya.

Sudahkah kita memiliki perencanaan macam itu? Jika belum, kita perlu lakukan sesuatu.

(Wiyanto Sudarsono)

Bacaan:
Momentum, 18 Kunci Utama Penggerak Bisnis. Hermawan Kartajaya. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: 2019.

Ruang Kosong

Pandemi Covid-19 telah mengubah banyak kondisi. Dari kehidupan sosial hingga pribadi. Dari jadwal kerja hingga cara berpromosi.

Menumpang bus shuttle dari hotel transit ke Bandara Soekarno-Hatta, mata saya menangkap beberapa sudut ruang promosi berwarna putih. Kosong tanpa produk dan jenama yang menggunakan jasa. Hanya “ruang kosong” bertuliskan informasi nomor yang dapat dihubungi jika berminat menggunakan jasanya.

Pandemi ini membuat banyak perusahaan mengalami guncangan keuangan. Banyak biaya yang tidak mampu ditutupi dari aktivitas penjualannya. Jangankan untuk promosi, mampu mempertahankan karyawan sudah menjadi prestasi.

Kalau terpaksa, pengurangan gaji atau bahkan jumlah karyawan menjadi pilihan. Menyisakan ruang kosong di kantor, di hati karyawan dan keluarga, bisa jadi termasuk ruang di dompet dan rekening para manajemennya.

Lain dengan beberapa perusahaan yang masih tumbuh. Anggaran promosi sisa tak terpakai. Seolah tak butuh. Karena tidak dapat dilakukannya promosi yang sifatnya tatap muka.

Media sosial menjadi pelipur nestapa. Komunikasi dunia maya. Menyasar pelanggan muda. Meski masih sadar, bahwa pelanggan saat ini masih banyak yang tua.

Ini mungkin momentum untuk merenung dan berpikir. Memperbaiki strategi. Jika biasanya sibuk dengan rutinitas harian. Mungkin saatnya mengganti dan memperbaiki peranti promosi. Menilik cara komunikasi yang lain. Tak. Menutup kemungkinan media jaya di masa silam: radio dan televisi.

Ini mungkin momentum tepat untuk berkaca diri. Membayangkan setiap kondisi yang mungkin terjadi. Kemudian melakukan antisipasi. Sehingga organisasi tumbuh dalam Kondisi apapun.

Sehingga tidak sampai ada ruang kosong atau minus di laporan keuangan. Kalaupun terjadi tidak lama. Untuk kemudian positif kembali.

(Wiyanto Sudarsono)

Tentang Air

Saluran Sekunder, irigasi di Kec. Air Majunto, Mukomuko, Bengkulu

Sekian persen fisik dan material manusia berasal dari air. Bahkan, awal mula manusia –setelah manusia pertama dan kedua berawal l– dari air. Sehingga menjaga proporsi air dalam tubuh hal yang niscaya. Jika tidak, dehidrasi namanya.

Tak hanya manusia. Semua makhluk nyata membutuhkannya. Termasuk makhluk yang mampu memasak kebutuhan makannya di dalam tubuh sendiri: tanaman. Karena itu air menjadi hal yang patut dicermati kebutuhan dan pengelolaanya.

Pertanian, mendorong tanaman ntuk berproduksi melebihi dari kebutuhan tanaman itu sendiri. Karena, petani membutuhkan panen. Untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan secara langsung (makan dari hasil panen) ataupun tidak langsung (membeli dari penjualan hasil panen).

Pertanian erat kaitannya dengan pengairan. Karena itu terdapat semacam ilmu pengelolaan air (water management) dalam dunia pertanian.

Tetap pada keyakinan, bukan air sumber kehidupan. Tapi yang menciptakan dan menurunkan airlah sumber kehidupan aslinya: Allah Yang Maha Rahman.

Pengairan

Karena pentingnya air untuk tanaman, padi terutama, hampir sering kita temui adanya irigasi. Dengan berbagai sumbernya. Bendungan terutama.

Di Indonesia, tentu banyak tersebar dimana-mana. Seperti di Lampung Utara. Tak jauh dari kampung saya.

Juga di Mukomuko, Bengkulu bagian utara. Utaranya Bengkulu Utara. Irigasi menjadi prasarana penting bagi pertanian tanaman pangan. Mungkin lebih penting dari pupuk. Atau sama pentingnya dalam hal peningkatan produksi pertanian.

Begitulah air, darinya Allah menumbuhkan kehidupan. Mari kita simak firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَاۤءِ مِنْ مَّاۤءٍ فَاَحْيَا بِهِ الْاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَاۤبَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengannya Dia menghidupkan bumi setelah mati (kering), dan Dia menebarkan di dalamnya semua jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengerti.
(Al-Baqarah [2]:164).

Mari bersyukur atas nikmat air yang terus Allah turunkan bagi kita. Yang dengannya Allah menghidupkan tanaman. Agar kita tidak menjadi manusia yang kufur akan nikmat-Nya.

(Wiyanto Sudarsono)

Darat, Laut, Udara

Seminggu lebih sudah lewat. Sepuluh hari tepatnya. Vaksin kedua kami. Sinovac, SARS Cov-2 Vaccine. Ada kisah “perjuangan” seru kami dalam mendapatkan vaksin kedua itu.

Info datang Ahad Maghrib. Sekitar pukul 18.00 WIB. Vaksin dilakukan pada Senin esok hari. Di Surabaya. Kami saat itu berada di Lampung.

Singkat kata kami bertiga sepakat: berkendara dari Lampung ke Bandara Sukarno Hatta, kemudian menumpang Garuda ke Surabaya. Menggunakan modal yang berbeda. Agar tidak terlambat.

Kami menempuh perjalanan di atas ruas tol Bakter (Bakauheni – Terbanggi). Masuk dari Gerbang Natar setelah sebelumnya rapid antigent di Klinik Graha Puri Husada.

Sambil berjalan, sekira setengah jam sebelum tiba di pelabuhan Bakauheni, kami memesan tiket kapal melalui Aplikasi Ferizy.

Tips: pesanlah kapal untuk lebih dari dua jam berikutnya. Jika kita tiba lebih awal, kita bisa masuk untuk jadwal yang sebelum. Jadwal kita pilih. Lebih cepat. Selama kapasiatas kapal masih ada.

Kami tiba di pelabuhan sekira pukul 00.00 WIB. 30 menit sebelum jadwal kapal express pada 00.30. Jadwal yang kami pesan pukul 02.45 WIB. Karena penpang dan kendaraan kami majikan di jadwal pukul 00.30.

Setelah menyeberang ke merak kami melanjutkan berkendara ke Bandara Soekarno-Hatta. Cepat sekali kawan kami berkendara. Alhamdulillah tiba di Parkir Terminal 3 Ultimate sekitar pukul 04.00 WIB. Setelah sempat memutar beberapa kali di jalanan bandara.

Kami segera mencari tempat verifikasi dokumen perjalanan dan sarapan. Sambil menunggu penerbangan pukul 8.30 kami berencana mandi. Ruang shower tutup. Karena pandemi. Mencari tempat leyeh-leyeh meluruskan punggungenjadi pilihan.

Boarding dan penerbangan seperti biasa. Alhamdulillah. Lancar. Mendarat di Surabaya, masih harus menunggu kawan kami dari Medan.

Masjid menjadi tujuan. Mandiri, bersih diri dan kembali melanjutkan mimpi –tidur–. Dzuhur tiba.

Selepas salat, kami menuju parkir timur Delta Plaza untuk verifikasi awal dokumen vaksin. Setiba di Delta plaza kami makan siangbduku.

Lalu menggunakan bisa shuttle menuju Grand City Surabaya untuk vaksin kedua. Lancar.

Kami segera menuju ke Bandara Juanda lagi. Setelah sebelumnya berkirim foto menunjukkan lengan yang belah di vaksin.

Mendarat di Soekarno Hatta langsung menuju lokasi makan malam. Setelah itu baru hotel.

Esok paginya, Selasa, kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil ke Merak, menyeberang ke Bakauheni, dan kembali ke Bandar Lampung. Darat, Laut, Udara dilalui. Alhamdulillah selesai. Lancar sekali.

(Wiyanto Sudarsono)

Layanan Itu

Kesempatan itu hadir. Alhamdulillah. Berkunjung ke dealer mobil Toyota ternama: Auto2000. Bukan yang di kota besar, tapi di Kotabumi, Lampung Utara.

Agenda utama adalah mengantar tim penjualan yang harus “mengembalikan” mobil operasional yang baru. Harus di branding dengan penanda korporat —corporate identity–. Sambil kami melihat-lihat model mobil terbaru yang katanya begitu memesona.

Kami menumpang Salat Asar di musala dealer. Kami tertarik dengan kondisi sarana pendukung outlet dan ruang pamernya. Musala, toilet, ruang merokok, ruang gudang, ruang pelatihan, dan tentu saja dengan kondisi ruangannya yang WOW.

Seperti hotel ya“. Seru saya kepada kolega.
“Iya Pak, asik”. Tampaknya ia pun setuju.
Tidak sekadar hotel, tapi ini sekelas hotel bintang 4 atau 5“. Sergah saya.
Ini lho perusahaan yang menerapkan ilmu dan konsep pemasaran dalam kegiatannya. Siapa bilang konsep pemasaran nggak bisa diterapkan”. Imbuh saya sambil menerawang dalam pikir: “Ini toh pengejawantahan SERVICE (S besar) dalam konsep layanan prima”.

Mereka jualan barang. Bukan jasa. Bukan hotel, bukan bandara, bukan maskapai penerbangan atau tempat hiburan. Tapi sarana pendukungnya begitu baik. Jualannya mobil, tapi musala dan toilet dealernya, bak hotel.

Pupuk vs Mobil

“Pupuk beda Mas, pupuk yang beli petani. Nggak butuh begituan”. Ehm… Mari kita tengok. Dalam konsep layanan prima, saya belum mendapati konsep: “diskriminasi pelanggan”. Jika barang bernilai tinggi harus sempurna dalam layanannya, jika barang nilainya rendah maka jelek tidak apa-apa.

Layanan penjualan misalnya. Perubahan sistem penjualan harus menjadikannya lebih cepat. Lebih singkat. Lebih menarik bagi pelanggan. Bukan lebih lambat dan lama. Jika sebelumnya layanan sehari, maka setelah perbaikan menjadi beberapa jam saja.

Di ujung saluran. Karena contoh kekaguman pada dealer. Salah satu gerai atau outlet pupuk yang tersebar di seluruh Indonesia misalnya. Yang gerainya berwarna biru. Yang ada stripnya orange. Yang terlihat kalau outletnya sedang ditutup.

Saya belum mengingat adanya standar pelayanan petugas outlet. Yang ada hanya standardisasi branding dan warna gerai.

Bahkan sampai 2018, belum didapati panduan menyusun atau menumpuk pupuk yang benar. Sehingga tidak salah jika masih sering kali petani mendapati pupuk berkantong putih namun menjadi cokelat. Bahkan hanya sekadar menghitung jumlahnya saja tidak mudah. Jadi cukup layak jika Advisor IFRI menyatakan kasta pupuknya baru ksatria atau sudra.

Itu baru layanan utama. Belum layanan ikutan dan pendukung lainnya.

Tampaknya, masih butuh perjuangan untuk industri pupuk mencapai dan menerapkan SERVICE EXCELENT, dengan S besar. Layanan di berbagai sendi dalam proses bisnisnya. Semoga tidak lama lagi.

Oh ya, karena –waktu itu– belum ada panduan, maka awal 2018 ada yang menyusun sebuah panduan sederhana. Panduan menjadi pengecer, outlet, kios pupuk yang baik.

Panduan bagaimana menyimpan pupuk ada di halaman 30, ebook “Panduan Pengecer Pupuk Bersubsidi”. Semoga bisa dilakukan penyempurnaan lagi.

(Wiyanto Sudarsono)